A.
PERTEMUAN 1
A.
Konsep Dasar Bayi Baru Lahir
1.
Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi
baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42
minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram (Kristiyanasari,
2009). Bayi baru lahir merupakan individu yang sedang bertumbuh dan baru saja
mengalami trauma kelahiran serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari
kehidupan kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin (Dewi, 2011).
Kesimpulannya adalah bayi baru lahir merupakan bayi lahir yang dapat melakukan
penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin.
2.
Asuhan Segera Bayi Baru Lahir
Bidan
harus mengetahui kebutuhan transisional bayi dalam beradaptasi dengan kehidupan
diluar uteri sehingga ia dapat membuat persiapan yang tepat untuk kedatangan
bayi baru lahir. Adapun asuhannya sebagai berikut (Fraser Diane, 2011):
a.
Pencegahan kehilangan panas seperti
mengeringkan bayi baru lahir, melepaskan handuk yang basah, mendorong kontak
kulit dari ibu ke bayi, membedong bayi dengan handuk yang kering.
b.
Membersihkan jalan nafas.
c.
Memotong tali pusat.
d.
Identifikasi dengan cara bayi diberikan
identitas baik berupa gelang nama maupun kartu identitas.
e.
Pengkajian kondisi bayi seperti pada
menit pertama dan kelima setelah lahir, pengkajian tentang kondisi umum bayi
dilakukan dengan menggunakan nilai Apgar.
3.
Asuhan Bayi Baru Lahir Menurut Saifuddin (2002)
Asuhan
bayi baru lahir adalah sebagai berikut:
a.
Pertahankan suhu tubuh bayi 36,5 C.
b.
Pemeriksaaan fisik bayi.
c.
Pemberian vitamin K pada bayi baru lahir
dengan dosis 0,5 – 1 mg I.M.
d.
Mengidentifikasi bayi dengan alat
pengenal seperti gelang.
e.
Lakukan perawatan tali pusat.
f.
Dalam waktu 24 jam sebelum ibu dan bayi
dipulangkan kerumah diberikan imunisasi.
g.
mengajarkan tanda-tanda bahaya bayi pada
ibu seperti pernafasan bayi tidak teratur, bayi berwarna kuning, bayi berwarna
pucat, suhu meningkat, dll.
h.
mengajarkan orang tua cara merawat bayi.
9 4. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam asuhan pada bayi baru lahir menurut
APN (2008):
1.
Persiapan kebutuhan resusitasi untuk
setiap bayi dan siapkan rencana untuk meminta bantuan, khususnya bila ibu
tersebut memiliki riwayat eklamsia, perdarahan, persalinan lama atau macet,
persalinan dini atau infeksi.
2.
Jangan mengoleskan salep apapun atau zat
lain ke tali pusat. Hindari pembungkusan tali pusat. tali pusat yang tidak
tertutup akan mengering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang lebih
sedikit.
3.
Bila memungkinkan jangan pisahkan ibu
dengan bayi dan biarkan bayi bersama ibunya paling sedikit 1 jam setelah
persalinan.
4.
Jangan tinggalkan ibu dan bayi seorang
diri dan kapanpun.
5.
Prinsip asuhan bayi baru lahir normal (Hidayat, 2010):
a.
Cegah kehilangan panas berlebihan.
b.
Bebaskan jalan nafas.
c.
Rangsangan taktil.
d.
Laktasi (dimulai dalam waktu 30 menit
pertama).
6.
Cara kehilangan panas tubuh pada bayi baru lahir Menurut Yanti (2009) proses
kehilangan panas pada tubuh bayi baru lahir sebagai berikut:
a.
Evaporasi yaitu proses kehilangan panas
melalui cara penguapan oleh karena temperatur lingkungan lebih rendah dari pada
temperatur tubuh (bayi dalam keadaan basah).
b.
Konduksi yaitu proses kehilangan panas
tubuh melalui kontak langsung dengan benda yang mempunyai suhu lebih rendah.
c.
Konveksi yaitu proses penyesuaian suhu
tubuh melalui sirkulasi udara terhadap lingkungan.
d.
Radiasi yaitu proses hilangnya panas
tubuh bayi bila diletakan dekat dengan benda yang lebih rendah suhunya dari
tubuh.
7.
Cara mencegah terjadinya kehilangan panas Menurut APN (2008) untuk mencegah
terjadinya kehilangan panas pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut:
a.
Keringkan tubuh bayi tanpa membersihkan
verniks.
b.
Letakkan bayi agar terjadi kotak kulit
ibu ke kulit bayi.
c.
Selimuti ibu dan bayi dan pakaikan topi
di kepala bayi.
d.
Jangan segera menimbang atau memandikan
bayi baru lahir.
8.
Penanganan Bayi Baru Lahir Menurut Prawirohardjo (2009) menyebutkan bahwa
penanganan bayi baru lahir seperti dibawah ini:
a.
Menilai bayi dengan cepat (dalam 30
menit), kemudian meletakan bayi diatas perut ibu dengan posisi kepala bayi
sedikit lebih rendah dari tubuhnya, bila bayi mengalami asfiksia lakukan
resusitasi.
b.
Segera membungkus kepala dan badan bayi
dengan handuk dan biarkan kontak kulit ibu-bayi lakukan penyuntikan oksitosin.
c.
Menjepit tali pusat menggunakan klem
kira-kira 3cm dari pusat bayi dan memasang klem kedua 2cm dari klem pertama.
e.
Memegang tali pusat dengan satu tangan,
melindungi bayi dari gunting dan memotong tali pusat diantara klem.
f.
Mengeringkan bayi, mengganti handuk yang
basah dan menyelimuti bayi dengan kain yang bersih dan kering, menutupi bagian
kepala.
g.
Memberikan bayi kepada ibunya dan
menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI.
B.
UNDANG UNDANG PERLINDUNGAN ANAK
Landasan / dasar hukum Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
Tentang Perlindungan Anak adalah:
1.
Pasal
20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, Pasal 28B ayat (2), dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
2.
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan
Anak (Lembaran
Negara Tahun 1979 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3143);
3.
Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap
Perempuan (Convention on The Elimination of all Forms of Discrimination Against
Women) (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3277);
4.
Undang-undang
Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 3,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3668);
5.
Undang-undang
Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor
9, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3670);
6.
Undang-undang
Nomor 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan ILO Convention No. 138 Concerning
Minimum Age for Admission to Employment (Konvensi ILO mengenai Usia Minimum
untuk Diperbolehkan Bekerja) (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 56, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3835);
7.
Undang-undang
Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor
165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886);
8.
Undang-undang
Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan ILO Convention No. 182 Concerning The
Prohibition and Immediate Action for The Elimination of The Worst Forms of
Child Labour (Konvensi ILO No. 182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera
Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak) (Lembaran Negara Tahun
2000 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3941);
B. PERTEMUAN 2
A. Adaptasi Bayi Baru Lahir Yang Terjadi Dengan
Cepat
1. Perubahan Sistem Pernapasan
Sistem pernapasan merupakan sistem yang
paling tertantang ketika mengalami perubahan dari fase intrauterus menuju
ekstrauterus. Bayi baru lahir harus mulai segera mulai bernafas. Selama
kehamilan organ yang berperan dalam respirasi janin sampai janin lahir adalah
placenta.
Paru – paru
yang bermula dari suatu titik yang
muncul dari Pharynx yang bercabang dan kemudian cabang lagi sehingga
membentuk struktur pencabangan bronkus. Proses tersebut terus berlanjut setelah kelahiran hingga kira-kira usia anak 8
tahun sampai jumlah bronkhiolus dan alveolus berkembang sepenuhnya.
Agar alveolus dapat berfungsi, harus ada surfaktan yang cukup dan aliran darah
ke paru-paru. Surfaktan adalah lipoprotein yang dapat mengurangi ketegangan
permukaan dalam alveoli dan membantu dalam pertukaran gas. Bagian ini di
produksi pertama kali dari usia kehamilan 20 minggu dan jumlahnya akan terus
bertambah hingga paru–paru menjadi dewasa pada minggu 30 – 34 minggu.
Ketidak dewasaan paru–paru inilah yang paling menentukan dan
mengurangi kemungkinan hidupnya seorang bayi baru lahir oleh karena
luas permukaan alveoli yang terbatas serta tidak adanya surfaktan yang memadai
menyebabkan stress pada bayi.
Fenomena yang
menstimulasi neonatus untuk nafas pertama kali, diantaranya; peristiwa mekanis
seperti penekanan toraks pada proses kelahiran pervagina dan tekanan yang
tinggi pada toraks tersebut tiba-tiba hilang ketika bayi lahir disertai oleh
stimulus fisik, nyeri, cahaya suara menyebabkan perangsangan pusat pernafasan.
Pada saat bayi mencapai cukup bulan, kurang dari
100 ml cairan paru–paru terdapat di dalam nafasnya. Selama proses kelahiran,
kompresi dinding dada akan membantu pengeluaran sebagian dari cairan ini dan
lebihnya akan diserap oleh sirkulasi pulmonum serta
sistem limphatik setelah kelahiran bayi. Neonatus yang dilahirkan dengan
SC (Secsio Cesarea) tidak
mendapat penekanan thorak sehingga paru–parunya
terisi cairan dalam waktu yang lebih lama. Cairan yang mengisi mulut
dan trakhea sebagian dikeluarkan dan udara mulai mengisi
sistem pernafasan ini.
Aktifnya pernafasan yang pertama menimbulkan serangkaian
peristiwa diantaranya :
a.
Membantu perubahan sirkulasi janin
menjadi sirkulasi dewasa.
b.
Mengosongkan cairan dari paru–paru.
c.
Menentukan volume
paru neonatus dan karakteristik fungsi paru–paru bayi
baru lahir.
Dengan tarikan
nafas yang pertama, udara di ruangan mulai mengisi saluran napas besar trakhea
neonatus dan bronkus. Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat
penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Peningkatan aliran
darah paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan menghilangklan
cairan paru.
2. Perubahan Sirkulasi
Karakteristik
sirkulasi janin merupakan sistem tekanan rendah, karena paru – paru masih
tertutup dan berisi cairan, organ tersebut memerlukan darah dalam jumlah
minimal. Pemasangan klem tali pusat akan menutup sistem tekanan
darah dari plasenta-janin. Aliran darah dari palsenta berhenti,
sistem sirkulasi bayi baru lahir akan mandiri, tertutup dan
bertekanan tinggi. Efek yang muncul segera akibat tindakan pemasangan klem tali
pusat adalah kenaikan resistensi vaskular sistemik. Kenaikan resistensi
vaskular sistemik ini bersamaan dengan pernapasan pertama bayi baru lahir.
Oksigen dari
napas pertama ini menyebabkan otot–otot vaskular berelaksasi dan terbuka.
Paru–paru menjadi satu sistem tekanan rendah. Kombinasi tekanan ini yang
meningkat pada sirkulasi sistemik tetapi menurun pada sirkulasi paru
menimbulkan perubahan–perubahan tekanan aliran darah pada jantung. Tekanan yang
berasal dari peningkatan aliran darah pada jantung kiri menyebabkan foramen ovale menutup.
Semakin banyak darah yang mengandung oksigen melewati duktus arteriosus
menyebabkan organ ini berkontraksi sehingga membatasi arus pintas yang terjadi
melalui duktus tersebut. Peningkatan aliran darah ke paru-paru akan mendorong
terjadinya peningkatan sirkulasi limpe dan membantu menghilangkan cairan
paru-paru dan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar
rahim. Darah yang meninggalkan jantung neonatus menjadi sepenuhnya mengandung
oksigen ketika berada dalam paru dan mengalir ke seluruh jaringan tubuh yang
lain. Dalam waktu singkat perubahan–perubahan besar tekanan telah berlangsung
pada bayi baru lahir, sekalipun perubahan–perubahan ini secara anatomi tidak
selesai dalam hitungan minggu, penutupan fungsional foramen ovale dan duktus
arteriosus terjadi segera setelah kelahiran,
yang paling penting untuk dipahami bidan adalah bahwa perubahan–perubahan
sirkulasi dari janin ke bayi baru lahir berkaitan mutlak dengan
kecukupan fungsi respirasi.
3. Termoregulasi
Bayi baru lahir
memilki kecenderungan cepat stress akibat perubahan suhu lingkungan, karena
belum dapat mengatur suhu tubuh sendiri. Pada saat bayi meninggalkan lingkungan
rahim ibu yang bersuhu rata-rata 37 0C, kemudian
bayi masuk ke dalam lingkungan. Suhu ruangan persalinan yang suhu
25 0C sangat berbeda dengan suhu di dalam
rahim.
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas melalui empat mekanisme yaitu :
d.
Konveksi adalah kehilangan panas tubuh
yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang
dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami
kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi aliran
udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin
ruangan.
e.
Radiasi adalah kehilangan panas yang
terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu tubuh
lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini
karena benda-benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak
bersentuhan secara langsung).
f.
Konduksi adalah kehilangan panas tubuh
melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin, meja,
tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi
akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apalagi bayi
diletakkan diatas benda-benda tersebut.
g.
Evaporasi adalah jalan utama bayi
kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan
ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah
lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan. Kehilangan panas juga terjadi pada
bayi yang terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya tidak segera dikeringkan dan
diselimuti.
Meminimalkan kehilangan panas bayi baru lahir, beberapa cara umum untuk
mempertahankan panas adalah sebagai berikut :
h.
Selimut, topi atau pakaian yang hangat
sebelum kelahiran.
i.
Keringkan bayi baru lahir secepatnya.
j.
Atur suhu ruangan persalinan 25 0C.
k.
Jangan lakukan penghisapan bayi baru lahir
jika alas tempat tidur basah.
l.
Tunda memandikan bayi baru lahir sampai
suhu stabil.
m.
Tempatkan area perawatan bayi baru
lahir dari jendela, dinding luar atau jalan ke pintu.
n.
Selalu menutup kepala bayi baru lahir
dan membungkus rapat tubuh bayi selama 48 jam.
Neonatus dapat
menghasilkan panas dalam jumlah besar dengan cara; menggigil, aktifitas otot
dan termogenesis (produksi panas tanpa menggigil). Sehingga dapat menyebabkan
peningkatan metabolisme dan mengakibatkan peningkatan penggunaan
oksigen oleh neonatus. Oleh karena itu kehilangan panas
pada neonatus berdampak pada hipogilikemi, hipoksia dan asidosis.
4. Glukosa
Sebelum
dilahirkan kadar darah janin berkisar 60 hingga 70 % dari kadar darah ibu.
Dalam persiapan untuk kehidupan luar rahim seorang janin yang sehat
mencadangkan glukosa sebagai glikogen terutama di dalam hati.
Sebagian penyimpangan glikogen berlangsung pada trimester III.
Pada saat tali
pusat diklem, bayi baru lahir harus mendapat cara untuk mempertahankan glukosa
yang sangat diperlukan untuk fungsi otak neonatus. Pada setiap bayi baru lahir,
glukosa darah menurun dalam waktu singkat (1 hingga 2 jam kelahiran). Bayi baru
lahir yang sehat hendaknya didorong untuk sesegera mungkin
mendapatkan ASI setelah dilahirkan. Seorang bayi yang mengalami stress berat
pada saat kelahiran seperti hipotermia mengakibatkan hipoksia mungkin
menggunakan simpanan glikogen dalam jumlah banyak pada jam–jam pertama
kelahiran.
B. Adaptasi Bayi Baru Lahir Selanjutnya
1. Perubahan Darah
Pada waktu
dilahirkan bayi baru lahir mempunyai nilai
hemoglobin. Kadar hemoglobin normal berkisar 11,7 hingga 20,0 g /dl.
Haemoglobin janin mempunyai daya ikat terhadap oksigen yang sangat tinggi.
Nilai–nilai
haemoglobin awal bayi baru lahir sangat dipengaruhi oleh saat
pemasangan klem tali pusat dan posisi bayi baru lahir segera setelah
dilahirkan. Penempatan bayi baru lahir dibawah perut ibu dapat menyebabkan
transfusi plasenta sebesar 15 sampai 30 % lebih besar dari volume darah. Efek
samping transfusi plasenta yaitu : gangguan pernapasan, peningkatan
tekanan darah.
Jadi jika bayi
tidak diletakkan diatas perut ibu, maka tali pusat harus segera di klem.
walaupun aliran darah bisa mengalir balik dari bayi ke plasenta, keadaan ini
tidak biasa karena arteri umbilikus (yang membawa darah dari janin kembali ke
plasenta) mengalami spasme dengan cepat pada temperatur lingkungan kamar
bersalin. Jika terjadi arus balik, bayi baru lahir dapat mengalami hipovolemia
berat.
Sel darah merah
bayi baru lahir mempunyai rentang waktu hidup (lifespan) rata-rata 80 hari
(dibandingkan dengan umur hidup eritrosit dewasa selama 120
hari). Perputaran hidup sel yang cepat ini menghasilkan lebih banyak
dampak pemecahan sel, termasuk bilirubin yang harus di metabolisme. Kelebihan
bilirubin ini berperan pada ikterus fisiologis yang terlihat pada bayi baru
lahir.
2. Perubahan Sistem Gastrointestinal
Sistem
gastrointestinal pada bayi baru lahir cukup bulan relatif sudah matang. Sebelum
lahir, janin cukup bulan melakukan hisapan dan tindakan menelan. Reflek muntah
dan batuk yang sudah sempurna tetap utuh pada saat lahir. Mekonium kendati
steril, mengandung kotoran cairan amnion, yang menegaskan bahwa janin telah
menelan cairan amnion dan bahwa cairan tersebut telah melewati saluran
gastrointestinal.
Kemampuan bayi
baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan masih terbatas,
banyak keterbatasan ini berkaitan dengan beragamnya enzim pencernaan dan hormon
yang terdapat pada semua bagian saluran gastrointerstinal dari mulut
hingga intestin. Bayi baru lahir kurang mampu untuk
mencerna protein dan lemak dibandingkan dengan orang dewasa. Penyerapan
karbohidrat relatif efisien tetapi masih tetap dibawah kemampuan orang dewasa.
Kemampuan bayi baru lahir yang efisien terutama dalam penyerapan glukosa,
asalkan jumlah glukosa tidak terlalu besar.
Selama masa
bayi dini, bayi baru lahir masih memilki lapisan
epitel intestin yang bersifat tidak tembus antigen. Sebelum usus menutup, bayi
masih rentan terhadap infeksi bakteri / virus dan juga terhadap rangsangan
alergen melalui penyerapan intestin molekul–molekul besar. Pemberian ASI
mendorong penutupan usus karena ASI sejumlah besar IgA sekresi dan merangsang
profliferasi enzim–enzim intestin.
3. Perubahan Sistem Imunitas
a. Imunitas Alami
Sel– sel tubuh
memberikan fungsi imunitas yang terdapat pada saat lahir guna membantu bayi
baru lahir membunuh mikroorganisme asing. Tiga sel yang berfungsi dalam
fagositosis (menelan dan membunuh) mikroorganisme yang menyerang tubuh ketiga
sel darah ini adalah :
1)
Neutrofil polimorfomuklear.
2)
Monosit.
3)
Makrofag.
Sedangkan
sel–sel yang lain disebut sel pembunuh alami (natural killer).
Akhirnya neotrofil polimorfonuklear akan menjadi fagosit primer dalam
pertahanan penjamu (host), tetapi pada neonatus neutrofil polimorfonuklear ini
mengalami gangguan baik pada kemampuan untuk bergerak pada arah yang benar dan
dalam kemampuannya untuk melekat pada tempat–tempat peradangan. Kekurangan
fungsi ini menyebabkan suatu kelemahan utama sistem imunitas neonatus, ketidak
mampuannya mencari dan membatasi lokasi infeksi.
b. Imunitas Dapatan
Neonatus
dilahirkan dengan imunitas pasif terhadap virus yang berasal dari ibunya,
janin mendapatkan imunitas ini melalui berbagai IgG yang melintas melalui transplasenta.
Neonatus tidak memiliki imunitas pasif terhadap penyakit.
Dengan adanya defisiensi kekebalan
alami dan dapatan, bayi baru lahir rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu
pencegahan terhadap mikroba seperti praktek persalinan yang aman dan menyusui
ASI dini serta deteksi dini terhadap penyakit infeksi perlu dilakukan.
4. Perubahan Sistem Ginjal
Ginjal bayi
baru lahir memperlihatkan penurunan aliran darah dan ginjal dan penurunan laju
filtrasi glomerolus. Hal ini dapat menimbulkan dengan mudah
retensi cairan dan intoksikasi air. Fungsi tubulus masih belum
matang, yang dapat menyebabkan kehilangan natrium dalam jumlah besar
dan ketidakseimbangan elektrolit lain. Bayi baru lahir tidak mampu melakukan
pemekatan (konsentrasi) urin, yang mencerminkan pada berat jenis urin yang
rendah.
Bayi baru lahir
mengekresi sejumlah kecil urin pada 48 jam pertama kehidupan, sering kali
hanya sebanyak 30 – 60 ml. Protein atau darah tidak boleh terdapat di dalam
urin bayi baru lahir. Bidan harus senantiasa ingat bahwa masa
abdomen yang ditemukan pada pemeriksaan fisik acapkali sebenarnya ginjal dan
bisa jadi sebuah tumor, pembesaran atau penyimpangan pertumbuhan ginjal.
C. PERTEMUAN 3
A.
Adaptasi Termoregulasi
Termoregulasi
intrauterine janin akan berjalan dengan pasif, tidak akan memakai kalori dan
oksigen janin. Pada saat lahir, suhu tubuh bayi akan sama dengan suhu tubuh
ibunya. Faktor yang meningkatkan kehilangan panas pada bayi baru lahir antara
lain :
a.
Rasio permukaan tubuh dengan berat badan
lebih besar.
b.
Kehilangan cairan transdermal.
c.
Insulasi buruk akibat kulit tipis dan
pembuluh darah di permukaan.
d.
Keterbatasan merubah posisi tubuh.
Luas
permukaan tubuh yang besar dan sirkulasi yang relative buruk dapat terlihat ketika
bayi berkeringat atau mengiggil hal ini menandakan bahwa kemampuan bayi untuk
mengatur suhu tubuhnya masih tergolong buruk. Disamping itu, dingin yang
berlebihan juga dapat menyebabkan kerja jantung yang berlebihan juga dan dapat
menyebabkan “prickly heat” bintik-bintik kemerahan yang disebut milliria.
Menurut Maryunani (2010) Pencegahan kehilangan panas pada bayi baru lahirdapat
dilakukan dengan :
a.
Menghangatkan suhu lingkungan atau
mengatur lingkungan pada suhu yang konsistensi yaitu antara 36,5°C sampai
37,5°C.
b.
Pasang alat penghangat “radiant warmer”
untuk mencegah kehilangan panas pada bayi secara evaporasi.
c.
Kehilangan panas juga terjadi akibat
kandungan air dalam udara dan kulit bayi sehingga bayi perlu di beri pakaian
yang hangat dan segera mengganti ketika pakaian bayi basah.
d.
Pemakaian oksigen yang tidak dihangatkan
dan tidak dilembabkan.
B.
reflex pada bayi
Berikut beberapa jenis refleks yang sering terjadi pada bayi
baru lahir:
1. Rooting reflex
Gerakan secara tiba-tiba ini terjadi ketika Anda menyentuh
kulit di sekitar pipi dan pinggir mulut bayi.
Bayi akan mengikuti arah sentuhan tersebut sambil membuka
mulutnya. Ia pun akan berusaha menggapai jari tangan untuk dijilat dengan
menggerakkan kepalanya.
Refleks pada bayi baru lahir ini bukan gerakan yang tidak
mengandung arti. Ini merupakan transisi supaya dapat beradaptasi dan bertahan
hidup di lingkungan baru.
Rooting reflex ini juga membuat bayi mampu menemukan payudara atau
botol susu sehingga Anda bisa menyusui.
Pada usia 4 bulan, gerakan yang terjadi secara tiba-tiba ini
akan hilang karena bayi sudah bisa mendapatkan puting susu atau dot botol tanpa
kesulitan lagi mencari.
2. Refleks mengisap (sucking reflex)
Ini merupakan jenis refleks yang terjadi setelah rooting
reflex karena membantu bayi mengisap puting atau dot untuk mendapatkan
ASI maupun susu.
Meskipun berbeda, tujuan kedua refleks ini sama, yaitu
membantu bayi untuk mendapatkan makanan. Ketika bagian atas atau langit-langit
mulut bayi disentuh, bayi akan mulai mengisap.
Refleks mengisap mulai muncul saat usia 32 minggu kehamilan
dan menjadi sempurna saat usia 36 minggu kehamilan. Oleh karena itu, bayi prematur biasanya belum bisa mengisap dengan baik.
Tidak hanya dari jari orangtua, bayi juga dapat melakukan
gerakan secara tiba-tiba dengan mengisap jari atau tangannya sendiri.
3. Refleks moro
Refleks moro atau bisa juga disebut sebagai refleks kejut.
Kondisi ini terjadi saat bayi terkejut karena suara atau gerakan yang tiba tiba
juga cukup keras.
Refleks pada bayi baru lahir ini membuatnya menundukkan
kepala, memanjangkan tangan juga kaki, menangis, lalu menekukkan kembali tangan
serta kaki.
Biasanya, refleks moro akan terlihat hingga bayi berusia 2
bulan.
4. Asymmetric tonic neck reflex
Ketika kepala bayi menengok ke satu sisi, ia akan
memanjangkan lengan di sisi yang sama. Sebaliknya, lengan pada sisi yang berlawanan
akan ditekuk.
Refleks leher tonik ini terlihat seperti orang yang berlatih
olahraga anggar. Gerakan ini penting untuk menjaga stabilitas postur tubuh
serta melatih pergerakan mata menuju titik pandang.
Biasanya, jenis refleks ini berlangsung sejak bayi baru
lahir berusia 5 bulan hingga 7 bulan.
5. Refleks menggenggam (palmar grasp reflex)
Tangan bayi akan tetap tertutup selama bulan pertama. Biasa
juga disebut sebagai grasp reflex, bayi akan menutup jari-jarinya
seperti gerakan menggenggam.
Refleks menggenggam pada bayi baru lahir muncul
ketika Anda menyentuh telapak tangannya. Misalnya, ketika Anda menggelitik atau
menaruh sesuatu di telapak tangan.
Gerakan secara tiba-tiba ini muncul sejak lahir dan bisa
bertahan hingga usia 5 ata 6 bulan. Ada kemungkinan Anda juga bisa melihat hal
serupa di area kaki ketika bayi berusia 9 bulan.
6. Refleks Babinski
Refleks Babinski merupakan salah satu jenis gerakan yang
normal pada bayi. Hal ini terjadi ketika telapak kaki disentuh dengan tekanan
yang cukup kuat.
Efeknya jempol bayi akan mengarah ke atas dan jari-jari kaki
lainnya akan menyebar. Gerakan secara tiba-tiba ini kemungkinan akan menghilang
pada usia 1 hingga 2 tahun.
7. Stepping reflex
Refleks ini juga dikenal dengan istilah walking/dance
reflex. Hal ini karena bayi terlihat seperti melangkah atau menari ketika
ia diposisikan dalam posisi tegak dengan kaki yang menyentuh tanah.
Gerakan tiba-tiba ini muncul sejak bayi baru lahir dan
terlihat paling jelas setelah usia 4 hari. Biasanya, gerakan tiba-tiba ini
tidak terlihat lagi ketika bayi sudah di usia 2 bulan.
D. PERTEMUAN 4
A. Inisiasi Menyusu
Dini (IMD)
a. Pengertian IMD
Inisiasi menyusui dini adalah keadaan dimana bayi mulai menyusu sendiri segera
setelah lahir. Kontak antara kulit bayi dan kulit ibu dibiarkan setidaknya
selama 1 jam segera setelah lahir, kemudian bayi akan mencari payudara ibu
dengan sendirinya.
b. Prinsip IMD Beberapa
prinsip inisiasi menyusui dini menurut Sondakh (2013) :
1.
Setelah bayi lahir, tali pusat segera
diikat
2.
Letakkan bayi tengkurap di dada ibu
dengan kulit bayi bersentuhan langsung ke mulut ibu
3.
Biarkan kontak kulit berlangsung
setidaknya satu jam atau lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusu sendiri
apabila sebelumnya tidak berhasil
4.
Bayi diberi topi dan diselimuti
5.
Memberikan kolostrum pada bayi
6.
Tidak memberikan makanan atau minuman
lain selain asi
7.
Menyusui bayi dari kedua payudara secara
bergantian
8.
Memberikan ASI secara eksklusif selama 6
bulan
9.
Memperhatikan posisi tubuh bayi saat ibu
menyusui
10.
Menyusui sesuai kebutuhan bayi
11.
Setelah bayi berumur 6 bulan dapat
diberikan MP-ASI berbentuk makanan lumat secara bertahap
12.
Memberikan asi dahulu kemudian MP-ASI
13.
Memberikan asi pada bayi sampai umur 2
tahun
14.
Memperhatikan kebersihan ibu, bayi,
lingkungan dan peralatan yang digunakan untuk memberi makan bayi
15.
Memperhatikan gizi atau makanan ibu saat
hamil dan menyusui
c. Manfaat Inisiasi
Menyusui Dini Manfaat dari IMD menurut Sondakh (2013) :
1) Keuntungan untuk
ibu:
a.
Menstimulasi kontraksi uterus dan menurunkan
risiko perdarahan pasca persalinan
b.
Merangsang pengeluaran kolostrum dan
meningkatkan produksi ASI
c.
Ibu menjadi lebih tenang, memfasilitasi
kelahiran plasenta, dan pengalih rasa nyeri dari berbagai prosedur
pascapersalinan lain
d.
Membantu ibu mengatasi stress terhadap
berbagai rasa kurang nyaman
e.
Memberi efek relaksasi pada ibu setelah
bayi selesai menyusu
f.
Menunda ovulasi.
2) Keuntungan untuk
bayi:
a.
Bayi mendapatkan makanan dengan kualitas
dan kuantitas optimal
b.
Kolostrum memberikan kekebalan pasif
pada bayi
c.
Meningkatkan kecerdasan otak
d.
Membantu bayi mengoordinasikan kemampuan
menghisap dan menelan
e.
Meningkatkan jalinan kasih sayang antara
ibu dan bayi
f.
Mencegah kehilangan panas g)
Meningkatkan berat badan
B.
Rawat Gabung (Bonding Attachment)
Rawat
gabung atau rooming-in merupakan sistem perawatan ketika bayi dan ibu dirawat
dalam satu unit. Pada pelaksanaannya, bayi harus selalu berada di samping ibu
segera setelah dilahirkan sampai pulang. Setelah proses persalinan, bayi harus
segera diserahkan kepada ibunya dan dilakukan kontak antara kulit ibu dan kulit
bayi atau dilakukan inisiasi menyusui dini sedikitnya satu jam setelah
persalinan. Setelah itu bidan dapat melakukan perawatan bayi baru lahir,
kemudian bayi diserahkan kembali kepada ibunya untuk dilakukan rawat gabung
lagi (Tando, 2016).
Tujuan
rawat gabung adalah sebagai berikut:
a.
Memberikan dukungan emosional
a.
Ibu dapat memberi kasih sayang pada bayi
b.
Bayi mendapatkan kehangatan dari tubuh
ibu pada saat tidur dan digendong
c.
Bayi lebih cepat berinteraksi dengan
ibunya melalui suara ibu dan usapan ibu
d.
Ibu dan keluarga mendapatkan pengetahuan
dan merawat bayi
b.
Memberikan ASI
1)
Pemberian ASI sesering mungkin pada bayi saat berada di samping ibu dapat merangsang
produksi ASI lebih cepat dan lebih banyak
2)
Bayi secepat mungkin mendapatkan kolostrum/ASI sehingga permukaan kulit bayi
mendapatkan antibodi dalam jumlah tinggi
·
c. Mencegah infeksi
1)
Lebih mudah untuk mencegah infeksi silang karena bayi mendapatkan transfer
antibodi dari ibu
2)
Antibodi menjadikan bayi mempunyai kekebalan yang tinggi dan dapat mencegah
infeksi terutama diare
·
Memberikan pendidikan kesehatan Untuk
memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu dan keluarga mengenai teknik
memandikan bayi, teknik menyusui yang benar, merawat tali pusat, merawat
payudara, dan nutrisi
·
Memberikan stimulasi mental dan tumbuh
kembang pada bayi
1)
Dengan merawat bayi sendiri akan mempercepat mobilisasi sehingga ibu lebih
cepat sembuh/pulih dari proses persalinan
2)
Mempercepat keakraban antara ibu dan bayi Rawat Gabung dapat dilakukan di
berbagai tempat, yaitu: a. Poliklinik kebidanan
b.
Kamar bersalin di rumah sakit
c.
Kamar bersalin di klinik
d.
Kamar perawatan Persyaratan rawat gabung menurut (Tando, 2016) adalah sebagai
berikut:
·
Bayi lahir dengan spontan, baik
presentasi kepala maupun presentasi bokong
·
Jika bayi lahir dengan tindakan, rawat
gabung dapat dilakukan setelah bayi cukup sehat, refleks baik, tidak ada tanda
infeksi, dan sebagainya
·
Jika bayi lahir dengan seksio sesaria
dan anestesi umum, rawat gabung dilakukan setelah ibu dan bayi sadar penuh,
misalnya setelah 4-6 jam.
§ Bayi
tidak asfiksia setelah 5 menit pertama
§ Usia
kehamilan 37 minggu atau lebih
§ Berat
lahir ≥2500 gram
§ Tidak
terdapat tanda infeksi intrapartum
§ Bayi
dan ibu sehat Kontraindikasi rawat gabung, meliputi:
a.
Pada ibu
a.
Fungsi jantung dan paru-paru yang tidak
baik
b.
Eklampsia dan preeklampsia berat
c.
Penyakit infeksi akut dan aktif
d.
Karsinoma payudara
e.
Gangguan psikologis
b.
Pada bayi
a.
Bayi kejang
b.
Bayi yang sakit berat, misalnya penyakit
jantung atau penyakit paru berat
c.
Bayi yang memerlukan observasi atau
terapi khusus
d.
Very low birth weight (vlbw)
e.
Cacat bawaan
f.
Kelainan metabolic
E.
PERTEMUAN 5
A.
Perawatan bayi baru lahir
Kontak skin-to-skin dan
inisiasi menyusui dini
Dalam
rahim ibu, bayi berada pada suhu lingkungan yang optimal yaitu 36,5-37,5
derajat Celsius, sesuai dengan suhu tubuh ibunya. Sesaat setelah dilahirkan,
bayi akan berada pada suhu yang lebih rendah dari suhu tubuh ibunya, sehingga
berisiko untuk terjadi hipotermia (suhu tubuh rendah). Hipotermia dapat
menyebabkan terjadinya berbagai gejala seperti hipoglikemia (gula darah
rendah), gangguan pernafasan, lemas atau gelisah, kejang, dan sesak napas.
Untuk menghindari terjadinya hipotermia, letakkan bayi pada dada ibu sehingga
terjadi kontak antara kulit ibu dan kulit bayi (perawatan metode kanguru).
Metode ini sangat baik untuk menghangatkan bayi secara alamiah. Suhu kulit ibu
akan menghangatkan bayi lebih cepat dan menjaga suhu bayi tetap stabil.
Setelah
bayi dikeringkan, bayi ditengkurapkan di atas dada atau perut ibu. Kulit bayi
menempel dengan kulit ibu, dan mata bayi diletakkan sejajar dengan puting susu
ibu. Ibu dianjurkan menyentuh bayi dan menyangga ringan bagian bokong bayi.
Bayi diberi topi dan diselimuti. Biarkan bayi mencari sendiri puting ibu. Jika
setelah satu jam kontak kulit ke kulit belum terjadi proses menyusui dini, ibu
dibantu untuk mendekatkan bayi ke putingnya dan bayi diberi waktu untuk
melanjutkan kembali proses tadi selama setengah sampai satu jam. Alangkah
baiknya jika ibu dapat didampingi oleh suami atau keluarga.
Inisiasi
menyusu dini bermanfaat untuk mengurangi angka kematian bayi dan membantu
menyukseskan pemberian ASI eksklusif. Selain itu, IMD dapat meningkatkan daya
tahan tubuh bayi karena bakteri baik di kulit ibu akan masuk ke tubuh bayi dan
lebih lanjut lagi bayi akan mendapatkan ASI pertama (kolostrum) yang sangat
banyak mengandung zat-zat kekebalan tubuh. Tidak perlu cemas bila selama proses
IMD bayi belum sampai melakukan kegiatan menyusui yang sesungguhnya, karena
proses ini sendiri sudah meningkatkan peluang keberhasilan menyusui.
Pada
situasi tertentu bila bayi tidak bugar atau kondisi bayi setelah dilahirkan
belum stabil, terkadang IMD tidak dapat dilakukan karena bayi harus segera
mendapat perawatan lebih lanjut. Jika hal ini terjadi, ibu tidak perlu putus
asa. Ibu tetap dapat sukses menyusui dengan memerah ASI selama bayi belum dapat
menyusu secara langsung.
Rawat
gabung
Rawat
gabung adalah perawatan bayi dalam kamar yang sama dengan ibu pada hari-hari
pertama setelah persalinan, dan dilanjutkan setelah ibu dan bayi pulang ke
rumah. Rawat gabung bermanfaat untuk mendukung keberhasilan ASI eksklusif
karena bayi dapat menyusu langsung tanpa dijadwal dan ibu akan mudah mengenali
tanda-tanda lapar pada bayi. Hal ini dapat mencegah terjadinya payudara
bengkak, mengurangi risiko kuning, mencegah penurunan berat badan yang
berlebihan, bayi lebih tenang, mengurangi risiko infeksi dan depresi pada ibu
pasca persalinan serta meningkatkan rasa percaya diri ibu untuk merawat bayi.
Hari-hari
pertama bersama bayi
Bagaimana
bayi tidur?
Dalam
sehari bayi dapat tidur sampai total 20 jam, yang terpecah dalam
periode-periode tidur 20 menit hingga 4 jam. Usahakan kamar bersuhu sejuk,
tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas, dan mendapat cahaya serta
ventilasi cukup. Posisi tidur yang dianjurkan adalah posisi terlentang karena
dapat mencegah terjadinya sindrom kematian mendadak bayi atau sudden
infant death syndrome (SIDS). Tempat tidur bayi sebaiknya menggunakan alas
yang rata dan tidak terlalu lembut. Hindari menggunakan benda-benda yang dapat
menutupi kepala bayi.
Bagaimana
merawat tali pusat?
Setelah
dipotong, tali pusat mungkin akan diolesi cairan antiseptik klorheksidin atau
antiseptik lain. Setelah itu tali pusat dibiarkan terbuka dan kering dan tidak
perlu dikompres dengan kasa yang mengandung cairan antiseptik. Saat ingin
merawat tali pusat, cuci tangan terlebih dahulu, jangan oleskan apapun pada
tali pusat, tidak perlu ditutup dengan kasa dan jangan ditutup dengan popok
maupun gurita. Usahakan agar tali pusat tidak basah, tidak terkena air seni
maupun tinja bayi. Jika tali pusat kotor, segera cuci bersih dengan air yang
bersih dan sabun lalu keringkan dengan kain bersih. Biarkan tali pusat terlepas
sendiri. Jika terdapat tanda infeksi seperti kemerahan dan atau bengkak pada
pusat ataupun kulit disekitarnya, berbau busuk dan terlihat nanah, segera
kontrol ke tenaga kesehatan terdekat.
Memandikan
bayi
Saat
lahir, bayi belum perlu dimandikan. Bayi masih memiliki lapisan pelindung yang
terlihat seperti lemak berwarna keputihan yang berfungsi untuk menjaga suhu
bayi. Setelah 6 jam bayi dapat dilap dengan air hangat saja. Sebelum tali pusat
lepas, bayi dapat dimandikan dengan kain lap atau spon. Setelah tali pusat
lepas bayi dapat dimandikan dengan dimasukkan ke dalam air, hati-hati kepala
terendam dalam air. Gunakan air hangat-hangat kuku, sabun dan sampo khusus
bayi. Sebaiknya tidak memandikan bayi terlalu pagi maupun terlalu sore. Saat
melakukan perawatan kulit bayi, prinsipnya menggunakan seminimal mungkin
zat-zat yang berkontak dengan kulit, karena kulit bayi masih sangat sensitif.
Memilih
pakaian bayi
Pilihlah
pakaian dari bahan yang lembut, menyerap air dan tidak kaku. Bayi hanya perlu
memakai atasan, popok atau celana, selimut dan topi jika bayi kedinginan. Tidak
dianjurkan untuk membedong karena membatasi gerak bayi. Selain itu, tidak
dianjurkan pula untuk terus menggunakan sarung tangan maupun kaos kaki karena
terdapat indera peraba yang merupakan alat untuk belajar pada bayi. Jangan
gunakan gurita karena bayi bernafas lebih banyak menggunakan otot-otot perut.
Pola
buang air besar (BAB) dan buang air kecil bayi (BAK)
Bayi
normal akan BAK dalam 24 jam pertama dan BAB paling telat dalam 48 jam pertama.
Jika ini tidak terjadi, bayi perlu diperiksa lebih lanjut. Selanjutnya bayi
akan BAK 5-6 kali per hari dan BAB 3-4 kali per hari. Warna BAK yang baik
adalah jernih tidak berwarna pekat, sedangkan warna BAB akan berubah dari warna
hitam pekat, menjadi hijau dan akhirnya berwarna kekuningan pada sekitar usia 5
hari. Jika tidak terjadi perubahan warna BAB, harus dilakukan evaluasi
kecukupan asupan ASI. Jika ibu menemukan darah pada kemaluan bayi perempuan
saat awal-awal kelahiran, ibu tidak perlu khawatir, karena hal itu disebabkan
bayi masih dipengaruhi hormon ibu. Keadaan tersebut masih dianggap normal.
Membersihkan
popok dan kemaluan bayi
Bersihkan
kemaluan dari bagian depan ke belakang dengan menggunakan kapas yang sudah
dibasahi air bersih ataupun handuk basah. Jangan membersihkan popok dari bagian
bawah anus ke kemaluan.
Mengenali
isyarat lapar bayi
Bayi
lapar akan menunjukkan tanda-tanda seperti memasukkan tangan ke dalam mulut,
menggemgam tangan, mengeluarkan suarh seperti mengecap-ngecap, ah uh ah. Jangan
tunggu bayi menangis baru menyusuinya. Berikan ASI sesuai kemauan bayi, jangan
dijadwal. Normalnya bayi akan menetek selama 5-30 menit, jika diluar itu,
evaluasi proses menyusui. Jika ibu terpisah dengan bayi, lakukan pemerahan ASI
dan berikan ASI menggunakan sendok atau cangkir agar ketika ibu sudah bersama
bayi lagi, bayi tetap dapat menetek dengan ibu.
Membersihkan
mata, telinga dan hidung bayi
Mata
dapat dibersihkan dengan kapas bersih yang dibasahi dengan air hangat, mulai
dari arah hidung ke luar. Jika ditemukan tanda-tanda infeksi pada mata seperti
bengkak, merah, mengeluarkan nanah segera bawa ke dokter. Kotoran telinga tidak
perlu dibersihkan secara rutin dengan mengorek liang telinga karena akan keluar
sendiri ketika sudah cukup besar dan lunak saat bayi menangis. Lubang hidung
bayi juga tidak perlu dibersihkan secara khusus, cukup mengelapnya saat mandi.
Penglihatan
bayi
Kemampuan
melihat bayi terbatas kisaran jarak 20-30 cm. Penglihatan bayi sensitif
terhadap cahaya terang. Sampai usia beberapa bulan kadang kedua bola mata bayi
tidak sejajar, tampak seperti juling. Hal ini normal, karena otot-otot
penggerak bola mata masih dalam tahap perkembangan. Pada beberapa bayi kadang
bola matanya bergerak-gerak dengan sangat cepat ke kiri dan ke kanan, khususnya
bila akan tidur. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan.
Pendengaran
bayi
Fungsi
pendengaran bayi telah cukup matang dalam bulan pertama. Bayi akan lebih
mengenal suara ibunya, dibandingkan orang-orang lain di sekitar. Bayi sering
terkejut bila ada suara keras yang tiba-tiba terdengar
Saatnya
bayi berpergian
Jika
bayi ingin berpergian pastikan bayi dalam keadaan sehat. Gunakan pakaian yang
mencegah bayi kedinginan. Jika berpergian menggunakan mobil, letakkan bayi
pada car seat (kursi khusus bayi). Bayi sudah dapat berpergian dengan
pesawat setelah berusia 2 bulan. Jangan berpergian jika bayi sedang mengalami
infeksi telinga. Nyeri telinga pada pesawat take
off maupun landing dapat terjadi namun tidak berlangsung lama.
Bayi
kuning
Pada
umumnya bayi akan mengalami kuning pada usia 2-7 hari. Kuning yang perlu
diwaspadai jika terjadi dalam 24 jam pertama setelah lahir, berlangsung lebih
dari 2 minggu, disertai demam, sangat kuning sampai telapak tangan dan kaki
bayi, berdasarkan grafik bilirubin mencapai batas untuk sinar maupun tranfusi
tukar.
Kolik
pada bayi
Jika
bayi menangis terus menerus dan tidak dapat dihentikan mungkin saja bayi Anda
mengalami kolik. Bayi pada umumnya sering mengalami kolik pada pagi dan sore
hari. Biasanya tidak membaik dengan gendongan dan perut dapat terlihat tegang.
Jika hal ini terjadi, gendong bayi dengan lembut dan posisikan dalam posisi
tengkurap. Apabila bayi memang mengalami kolik, hal ini akan berhenti dengan
sendirinya.
Gumoh
Bedakan
gumoh dengan muntah. Gumoh biasanya terjadi secara pasif, dan keluar dengan
sendirinya. Untuk mencegah terjadinya gumoh sendawakan bayi, letakkan dalam
posisi tegak pada bahu atau pangkuan kemudian tepuk-tepuk ringan punggung bayi
setiap bayi selesai menyusu.
Tanda
bahaya
Bawa
segera bayi Anda ke petugas kesehatan terdekat jika bayi demam atau suhu
<36,5—¦C, muntah disertai kembung atau tidak ada BAB, kejang, sesak napas,
terdapat nanah di mata, malas menyusu dan lebih banyak tertidur, kuning sampai
berusia 2 minggu, tali pusat berbau, kemerahan, atau berdarah, dan BAB mencret.
F.
PERTEMUAN 6
Pemberian imunisasi
Untuk imunisasi dasar lengkap, bayi berusia kurang dari 24 jam diberikan
imunisasi Hepatitis B (HB-0), usia 1 bulan diberikan (BCG dan Polio 1), usia 2
bulan diberikan (DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2), usia 3 bulan diberikan (DPT-HB-Hib
2 dan Polio 3), usia 4 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan IPV atau
Polio suntik), dan usia 9 bulan diberikan (Campak atau MR).
Untuk imunisasi lanjutan, bayi bawah dua tahun
(Baduta) usia 18 bulan diberikan imunisasi (DPT-HB-Hib dan Campak/MR), kelas 1
SD/madrasah/sederajat diberikan (DT dan Campak/MR), kelas 2 dan 5
SD/madrasah/sederajat diberikan (Td).
Vaksin Hepatitis B (HB) diberikan untuk mencegah
penyakit Hepatitis B yang dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada
kegagalan fungsi hati dan kanker hati. Imunisasi BCG diberikan guna mencegah
penyakit tuberkulosis.
Imunisasi Polio tetes diberikan 4 kali pada usia
1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah lumpuh layu. Imunisasi
polio suntik pun diberikan 1 kali pada usia 4 bulan agar kekebalan yang
terbentuk semakin sempurna.
Imunisasi Campak diberikan untuk mencegah
penyakit campak yang dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare
atau menyerang otak. Imunisasi MR diberikan untuk mencegah penyakit campak
sekaligus rubella.
Rubella pada anak merupakan penyakit ringan,
namun apabila menular ke ibu hamil, terutama pada periode awal kehamilannya,
dapat berakibat pada keguguran atau bayi yang dilahirkan menderita cacat
bawaan, seperti tuli, katarak, dan gangguan jantung bawaan.
Vaksin DPT-HB-HIB diberikan guna mencegah 6
penyakit, yakni Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia
(radang paru) dan Meningitis (radang selaput otak) yang disebabkan infeksi
kuman Hib.
Terkait capaian imunisasi, cakupan imunisasi
dasar lengkap pada 2017 mencapai 92,04%, melebihi target yang telah ditetapkan
yakni 92% dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 63,7%, juga melebihi target
45%.
Sementara tahun ini terhitung Januari hingga
Maret imunisasi dasar lengkap mencapai 13,9%, dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta
mencapai 10,8%. Target cakupan imunisasi dasar lengkap 2018 sebesar 92,5% dan
imunisasi DPT-HB-Hib Baduta 70%.
G. PERTEMUAN 7
A.
masalah pada bayi baru lahir
1. Kejang
Masalah ini kadang sulit dibedakan dengan gerakan normal. Namun, bila Anda
melihat gejala atau gerakan yang tidak biasa terjadi berulang-ulang dan tidak
berhenti saat bayi disentuh atau dielus-elus, kemungkinan besar dia mengalami
kejang. Gejalanya berulang-ulang dalam rupa menguap, mengunyah, mengisap, bola
mata berputar-putar, kaki seperti mengayuh sepeda, mata mendelik, dan berkedip.
2. Tidak
mau menyusu atau memuntahkan semua yang diminum
Kondisi ini terjadi karena bayi mengalami infeksi berat.
3.
Kondisi tubuh lemah
Bayi bergerak saat hanya dipegang, hal ini menandai bayi sakit berat.
4. Demam
Apabila suhu tubuh lebih dari 37,5 derajat Celsius, bayi anda dipastikan
mengalami demam. Kondisi ini dapat terjadi sebaliknya jika tubuhnya terasa
dingin, dengan suhu tubuh kurang dari 36,5 derajat Celsius.
5. Sesak
napas dan terus menerus merintih
Ini menandakan bayi mengalami sakit serius.
6. Pusar
kemerahan hingga ke dinding perut
Ini menandakan bayi terkena infeksi berat.
7. Mata
bayi bernanah banyak
Bila tidak segera diobati, bayi terancam kebutaan.
8. Diare
yang disertai dengan gejala mata cekung dan kondisi tidak sadar
Jika kulit perut bayi dicubit kembali dengan lambat, hal ini menandakan dia
mengalami kekurangan cairan dalam tahap kronis.
9. Feses bayi berwarna pucat
10. Kulit
bayi terlihat berwarna kuning (jaundice)
Warna kuning ini terjadi akibat penumpukan zat kimia yang disebut bilirubin.
Kuning pada bayi akan berbahaya bila muncul kurang dari 24 jam setelah lahir,
pada umur lebih dari 14 hari, dan kuning sampai ke telapak tangan atau kaki.
H. PERTEMUAN 8
Kebutuhan
Dasar Neonatus
a.
Nutrisi Menurut Varney (2008), dalam sehari bayi akan lapar setiap 2-4 jam.
Bayi hanya memerlukan ASI selama enam bulan pertama.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, setiap 3-4 jam bayi harus dibangunkan
untuk diberi ASI.
b.
Eliminasi
1)
BAK Normalnya, dalam sehari bayi BAK
sekitar 6 kali sehari. Pada bayi urin dibuang dengan cara mengosongkan kandung
kemih secara refleks.
2)
BAB Defekasi pertama akan berwarna hijau
kehitam-hitaman dan pada hari ke 3-5 kotoran akan berwarna kuning kecoklatan.
Normalnya bayi akan melakukan defekasi sekitar 4-6 kali dalam sehari. Bayi yang
hanya mendapat ASI, kotorannya akan berwarna kuning, agak cair, dan berbiji.
Sedangkan bayi yang mendapatkan susu formula, kotorannya akan berwarna coklat
muda, lebih padat, dan berbau.
c.
Tidur Menurut Vivian (2013), dalam 2 minggu pertama setelah lahir, normalnya
bayi akan sering tidur, dan ketika telah mencapai umur 3 25 bulan bayi akan
tidur rata-rata 16 jam sehari. Jumlah waktu tidur bayi akan berkurang seiring
dengan pertambahan usia bayi.
d.
Kebersihan Menurut Rochmah (2012), kesehatan neonatus dapat diketahui dari
warna, integritas, dan karakteristik kulitnya. Pemeriksaan yang dilakukan pada
kulit harus mencakup inspeksi dan palpasi. Pada pemeriksaan inspeksi dapat
melihat adanya variasi kelainan kulit. Namun, untuk menghindari masalah yang
tidak tampak jelas, juga perlu untuk dilakukan pemeriksaan palpasi denghan
menilai ketebalan dan konsistensi kulit.
e.
Keamanan Menurut Rochmah (2012), kebutuhan keamanan yang diperukan oleh bayi
meliputi:
1)
Pencegahan infeksi yang dilakukan dengan cara:
o
Mencuci tangan sebelum dan sesudah
menangani bayi,
o
Setiap bayi harus memiliki alat dan
pakaian tersendiri untuk mencegah infeksi silang,
o
Mencegah anggota keluarga atau tenaga
kesehatan yang sakit untuk merawat bayi,
o
Menjaga kebersihan tali pusat,
o
Menjaga kebersihan area bokong.
2)
Pencegahan masalah pernapasan, meliputi:
o
Menyendawakan bayi setelah menyusui
untuk mencegah aspirasi saat terjadi gumoh atau muntah,
o
Memposisikan bayi terlentang atau miring
saat bayi tidur.
3)
Pencegahan hipotermi, meliputi:
o
Tidak menempatkan bayi pada udara dingin
dengan sering,
o
Menjaga suhu ruangan sekitar 25o c,
o
Mengenakan pakaian yang hangat pada
bayi,
o
Segera mengganti pakaian yang basah,
o
Memandikan bayi dengan air hangat dengan
suhu ±37o c,
o
Memberikan bayi bedong dan selimut.
I. PERTEMUAN 9-10
1.Pengertian deteksi dini tumbuh
kembang anak
Deteksi dini tumbuh kembang anak,
program ini sedang digalakkan oleh pemerinta sebagai upaya mencapai tumbuh
kembang anak yang optimal. Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan
atau pemeriksaan untuk men- emukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh
kembang pada balita dan anak prasekolah (Depkes RI, 2005).
2.Jenis Deteksi dini Pertumbuhan
dan Perkembangan
Ada 3 jenis deteksi dini yang dapat
dikerjakan oleh tenaga kesehatan ditingkat puskesmas dan jaringannya yaitu :
a.
Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan
yaitu untuk mengetahui/menemukan status pertumbuhan anak, seperti adanya status
gizi kurang/buruk dan mikro/ makrosefali. Untuk deteksi dini pertumbuhan anak
diperluhkan intrumen dalam pengukurannya. Jenis instrumen yang digunakan adalah
:
•
Berat Badan menurut Tinggi badan anak
(BB/TB)
•
Pengukuran Lingkar kepala anak (PLKA)
b.
Deteksi dini penyimpangan perkembangan
yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan
daya lihat, gangguan daya den- gar. Jenis instrumen yang digunakan:
•
Kuesioner Pra skrining Perkembangan
(KPSP)
•
Tes Daya Lihat (TDL)
•
Tes Daya Dengar Anak (TDD)
c.
Deteksi dini penyimpangan mental
emosional yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autisme,
gangguan pemusatan perhatian dan hiper- aktivitas. Instrumen yang digunakan:
•
Kuesioner Masalah Mental Emosional
(KMME)
•
Checklist for Autism in Toddlers
(CHAT)
•
Gangguan Pemusatan Perhatian dan
Hiperaktivitas (GPPH)
3.Deteksi Dini Penyimpangan
Pertumbuhan
Untuk mengetahui adanya penyimpangan
pertumbuhan, parameter yang digunakan adalah Berat Badan terhadap Tinggi Badan
(BB/TB) dan lingkar kepala anak (LKA). Parameter tersebut termasuk ukuran
antropometri dan paling mudah dilakukan dilapangan.
a.Pengukuran
Berat badan
Keuntungan dari pengukuran berat badan
merupakan salah satu ukuran antropometrik yang terpenting untuk mengetahui
keadaan staus gizi anak. Selain itu juga dipakai untuk memeriksa kesehatan anak
pada semua kelompok umur, apakah anak dalam keadaan normal dan sehat.
Keuntungan lainnya adalah pengukurannya
mudah, sederhana dan murah. Oleh karena itu kegunaan berat badan adalah :
1. Sebagai
informasi tentang keadaan
gizi anak, pertumbuhan dan kesehatannya.
2. Untuk
monitoring kesehatan sehingga dapat menentukan therapi apa yang sesuai dengan
kondisi anak.
3. Sebagai
dasar untuk menentukan dasar perhitungan dosis obat ataupun diet yang
diperlukan untuk anak.
Kelemahan, meskipun berat badan
merupakan ukuran yang dianggap paling pent- ing, namun mempunyai kelemahan
yaitu :
1. Tidak
sensitif terhadap proporsi tubuh misalnya pendek gemuk atau tinggi kurus.
2. Terjadi
perubahan secara fluktuasi setiap hari yang masih dalam batas normal. Perubahan
ini dapat terjadi akibat pengaruh intake seperti makanan/minuman dan output
seperti urine, keringat, pernafasan. Besarnya fluktuasi tergantung kelompok
umur dan sangat individual berkisar antara 100-200 gr sampai 500-1000 gr.
Pada beberapa hari pertama berat badan
bayi akan mengalami penurunan yang sifatnya normal yaitu sekitar 10% dari berat
badan lahir. Hal ini disebabkan keluarnya meconium dan air seni yang belum
diimbangi asupan yang adekuat, misalnya produksi ASI yang belum lancar. Umumnya
berat badan akan kembali mencapai berat lahir pada hari kesepuluh sampai ke
empat belas.
Pada
tahap adolesensia (masa remaja) akan terjadi pertambahan berat badan secara
cepat (growth spurt) Selain dengan perkiraan tersebut, dapat juga memperkirakan
BB dengan menggunakan rumus atau pedoman dari Behrman (1992) yaitu:
•
Berat badan lahir rata-rata ; 3,25
kg
•
Berat badan usia 3-12 bulan, menggunakan rumus:

Untuk menentukan umur anak dalam bulan,
bila lebih 15 hari dibulatkan ke atas, ku- rang atau sama dengan 15 hari
dihilangkan. Misal ada bayi berumur 5 bulan 25 hari, maka bayi dianggap berumur
6 bulan sehingga bila menggunakan rumus Behrman, BB bayi diperkirakan 7,5 kg.
Bila anak berumur 2 tahun 6 bulan, anak dianggap berumur 2 tahun, karena
kelebihan 6 bulan atau kurang maka akan dibulatkan ke bawah/ dihilangkan.
b.Pengukuran Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan ukuran
antropometri kedua terpenting. Keuntungan dari pengukuran tinggi badan ini
adalah alatnya murah, mudah dibuat dan dibawa sesuai keinginan dimana tinggi
badan akan diukur. Selain itu tinggi badan merupakan ind- ikator yang baik
untuk pertumbuhan fisik yang sudah lewat (stunting)
dan untuk perbandingan terhadap perubahan relatif seperti nilai berat badan dan
lingkar lengan atas.
Seperti terdapat pada tabel tinggi badan
dan berat badan, dengan mengetahui tinggi badan dan berat badan anak, dapat
diketahui keadaan status gizinya. Sedangkan kerugiannya adalah perubahan dan
pertambahan tinggi badan relatif pelan serta sukar pengukurannya karena
terdapat selisih nilai antara posisi pengukuran saat berdiri dan saat tidur.
Tinggi badan untuk anak kurang dari 2 tahun
sering diistilahkan panjang badan. Pada bayi baru lahir, panjang badan
rata-rata +50 cm. Pada tahun pertama pertambahannya 1,25 cm/bulan (1,5 x
panjang badan lahir). Penambahan tersebut berangsur-angsur berkurang sampai
usia 9 tahun yaitu hanya sekitar 5 cm/tahun. Baru pada masa pubertas ada
peningkatan pertumbuhan tinggi badan yang cukup cepat yaitu pada wanita 5-25
cm/tahun sedangkan laki-laki sekitar 10-30 cm/tahun. Pertambahan tinggi badan
akan berhenti pada usia 18-20 tahun.
Seperti halnya berat badan, tinggi badan
juga dapat diperkirakan berdasarkan rumus dari Behrman (1992) yaitu :
•
Perkiraan panjang lahir ; 50 cm
•
Perkiraan panjang badan usia 1 tahun =
1,5 x Panjang Badan Lahir
•
Perkiraan tinggi badan usia 2 – 12 tahun
= (Umur x 6) + 77 = 6n + 77
Keterangan
: n adalah usia anak dalam tahun, bila
usia lebih 6 bulan dibulatkan keatas, bila 6 bulan atau kurang dihilangkan.
c.Pengukuran lingkar Kepala
Ukuran lingkar kepala dimaksudkan untuk
menaksir pertumbuhan otak. Pertumbuhan ukuran lingkar kepala umumnya mengikuti
pertumbuhan otak sehingga bila ada hambatan/ gangguan pertumbuhan lingkar
kepala, pertumbuhan otak biasanya juga terhambat. Berat otak janin saat
kehamilan 20 minggu diperkirakan 100 gr, waktu lahir sekitar 350 gram, pada
usia 1 tahun hampir mencapai 3 kali lipat yaitu 925 gram atau mencapai 75% dari
berat seluruhnya. Pada usia 3 tahun sekitar 1100 gr dan pada 6 tahun
pertumbuhan otak telah mencapai 90% (1260 gr). Pada usia dewasa, berat otak
mencapai 1400 gr.
Secara normal pertambahan ukuran lingkar
kepala setiap tahap relatif konstan dan tidak dipengaruhi oleh faktor ras,
bangsa dan letak geografi. Saat lahir ukuran lingkar kepala normalnya 34-35 cm.
Kemudian bertambah + 0,5 cm/bulan pada bulan pertama atau menjadi + 44 cm. Pada
6 bulan pertama, pertumbuhan lingkar kepala paling cepat dibanding tahap
berikutnya kemudian tahun-tahun pertama lingkar kepala bertambah tidak lebih
dari 5 cm/th. Pada dua tahun pertama, pertumbuhan otak relatif pesat.Setelah
itu sampai usia 18 tahun lingkar kepala hanya bertambah + 10 cm.
Pertambahan yang relatif konstan juga
dapat diketahui dari proporsi besar kepala dengan panjang badan. Saat lahir
kepala berukuran seperempat (¼) bagian dari pan- jang badan dan setelah dewasa
besar kepala hanya seperdelapan (1/8) dari panjang badan. Oleh karena itu
lingkar kepala ini hanya efektif pada 6 bulan pertama sampai umur 2-3 tahun,
kecuali pada keadaan tertentu seperti bentuk kepala yang besar pada anak yang
menderita Hidrocephalus.
J. PERTEMUAN 11
Nutrisi untuk bayi yang dibutuhkan
selama satu tahun pertama
Pada tahun pertama kehidupan (dan memasuki fase balita), seorang anak perlu menerima nutrisi yang mendukung perkembangan otak dan nutrisi pendukung pertumbuhan yang mencukupi.
Nutrisi ini meliputi vitamin A, D, B6 dan B12, ditambah protein, asam lemak tak jenuh ganda, probiotik, prebiotik, serat, seng, besi, yodium, folat dan kolin. Nutrisi ini ditemukan secara alami dalam ASI dan makanan yang akan Anda perkenalkan selama tahun pertama kehidupan bayi Anda.
·
Usia 0-6
bulan
Bayi yang baru
lahir hingga enam bulan pertama kehidupannya hanya boleh menerima ASI atau susu
formula bayi, menurut American Academy of Pediatrics. Karena refleks makan
mereka yang belum sempurna, mereka tidak siap untuk makan makanan dalam bentuk
apapun selain minum ASI/ susu formula.
Dan saluran pencernaan bayi masih berkembang dan belum siap untuk makanan padat
sampai usia sekitar enam bulan. Memang beberapa bayi menunjukkan tanda-tanda
siap untuk menerima makanan padat lebih awal dari enam bulan, namun pemberian
ASI eksklusif dianjurkan untuk enam bulan pertama kehidupan sebelum beralih
atau menambahkan makanan tambahan pada sumber nutrisi utama sang bayi.
·
Usia 6-9
bulan
Begitu bayi Anda
menunjukkan bahwa dia siap untuk makanan padat dan makanan tambahan, Anda
dianjurkan untuk memberikan berbagai jenis makanan kepada sang bayi seperti
sayuran dan buah-buahan yang dihaluskan, agar mereka dapat mengeksplor teksture
maupun rasa dari setiap jenis makanan.
Namun perlu diingat bahwa makanan-makanan tersebut harus dibuat lunak atau
lembek seperti bubur, karena sistem pencernaan dan mekanisme makan sang bayi
masih dalam tahap perkembangan.
Tiap jenis makanan sebaiknya diberikan sendiri dan tidak dikombinasikan dengan
makanan lain setidaknya 3-4 hari sebelum Anda beralih ke makanan lain. Ini akan
membantu Anda untuk menentukan apakah bayi Anda memiliki alergi makanan atau
tidak.
Perlu diingat bahwa ASI masih merupakan bentuk nutrisi terpenting bagi bayi
Anda saat ini. Lemak makanan yang ditemukan dalam ASI sangat penting untuk
perkembangan otak dan kekebalan bayi, jadi makanan ini masih sangat penting,
walaupun bayi Anda mulai menikmati makanan padat.
·
9-12
Dalam periode
9-12 bulan, bayi Anda mungkin bisa makan 3 kali sehari, jadi Anda bisa
memberikan berbagai macam makanan setiap hari.
Dalam fase ini, bayi Anda akan siap untuk makan makanan yang tidak dihaluskan,
seperti kacang polong yang sudah dimasak, jagung dan potongan wortel, serta
pasta atau potongan roti yang sudah dipotong. Dua makanan yang ingin Anda
hindari sampai bayi berumur 12 bulan adalah madu dan kerang karena rentan
terhadap infeksi.
·
Pada usia
12 bulan
Bayi Anda sudah
mengeksplor sebagian besar makanan dan dia sudah mulai bisa memberi makan
dirinya sendiri dengan memasukan makanan ke mulutnya sendiri. Pada titik ini,
bayi Anda bisa makan semuanya, termasuk madu dan kerang.
Beberapa cara untuk mencegah
terjadinya gizi buruk pada bayi
·
Memberikan
ASI eksklusif
(hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan
dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan
umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
·
Anak
diberikan makanan yang bervariasi
seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan
komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan,
sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
·
Rajin
menimbang dan mengukur tinggi anak
dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai
dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke
dokter.
Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.
Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak.
Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum.
K. PERTEMUAN 12
1.
Penyakit
kuning
Kuning pada bayi baru lahir atau disebut ikterus neonatorum terjadi akibat penumpukan bilirubin. Kondisi ini bisa terjadi secara fisiologis (normal) ataupun akibat adanya penyakit tertentu.
Bila warna kuning pada tubuh baru muncul setelah 24 jam dan bayi tampak sehat, kemungkinan penyebabnya adalah masalah fisologis yang bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, apabila kondisi kuning muncul segera setelah lahir, bertahan hingga 24 jam atau lebih, harus dicurigai adanya kemungkinan penyakit tertentu. Kondisi ini dapat disebabkan berbagai faktor, seperti berat badan lahir rendah, usia kehamilan kurang dari 37 minggu, infeksi, hipoglikemi, dan lain-lain.
2.
Berat badan turun drastis
Tahukah Anda bahwa berat badan bayi bisa menyusut dalam waktu 3–4 hari setelah dilahirkan? Ini adalah hal yang umum teradi. Anda tak perlu khawatir, karena setelah mendapatkan ASI yang cukup selama kurang lebih 2 minggu, berat badan bayi akan naik mencapai berat badan saat lahir.
3.
Respiratory Distress
Respiratory Distress adalah keadaan yang muncul akibat kurangnya pasokan oksigen pada bayi. Keadaan ini bisa terjadi karena bayi masih beradaptasi untuk dapat bernapas secara normal dan mandiri.
Orang tua perlu khawatir jika bayi tampak merah, terdengar suara merintih ataupun mengi. Terjadinya keluhan-keluhan ini harus segera mendapatkan tindak lanjut dari dokter yang ahli.
4.
Kolik
Kolik adalah kondisi dimana bayi menangis terus-menerus tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini terkadang dapat membuat ibu yang baru melahirkan mengalami baby blues syndrome atau depresi.
Pada umumnya, kolik terjadi ketika bayi merasa tidak nyaman akan suatu hal. Keadaan ini biasanya dialami bayi yang baru lahir hingga mencapai usia 3 bulan. Kolik akan menghilang dengan sendirinya seiring pertambahan usia si Kecil.
5.
Distensi perut
Bayi baru lahir sering mengalami penumpukan gas atau gangguan saluran cerna, sehingga timbul distensi perut. Anda tak perlu khawatir berlebih akan keadaan ini, karena bisa diatasi dengan melakukan pijatan lembut di area perut si Kecil.
Namun, apabila pijatan tidak memberikan hasil yang efektif atau perut bayi tampak semakin besar, jangan tunda untuk segera membawa buah hati Anda berobat ke dokter.
6.
Masalah kulit
Masalah kulit yang paling sering muncul adalah diaper rash atau ruam popok. Jika dibiarkan, kondisi ini akan membuat bayi merasa tidak nyaman. Diaper rash biasanya terjadi akibat tumpukan feses atau urine yang menempel pada bokong bayi selama berjam-jam.
PRAKTIKUM NEONATUS
PERTEMUAN KE I
Langkah-langkah dalam mengukur antropometri pada bayi baru lahir
A. | PERSIAPAN |
|
|
|
|
|
1. | Persiapan alat § Meja periksa § Timbangan bayi § Pengukur panjang badan bayi § Pita LILA § Metlin (pita cm) § Kain pengalas timbangan § Selimut bayi § Nierbekken § Jangka kepala bayi § Celemek § Handscone bersih § Pakaian bayi 1 set (baju, tali dua, bedong) § Phantom bayi lengkap dengan pakaian § Bak instrument | 1 |
|
|
|
|
2. | Persiapan pasien Jelaskan kepada ibu dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan pada bayi | 1 |
|
|
|
|
3. | Persiapan lingkungan - Menjaga suhu bayi dan lingkungan dalam keadaan hangat (menutup ventilasi, nyalakan lampu) - Meletakkan kain pengalas/selimut hangat ditempat pemeriksaan yang rata | 1 |
|
|
|
|
4. | Persiapan petugas - Mengenakan pelindung diri - Mencuci tangan | 1 |
|
|
|
|
| - Menggunakan sarung tangan |
|
|
|
|
|
B. | CONTENT |
|
|
|
|
|
5. | Penimbangan berat badan Letakkan kain atau kertas pelindung dan atur skala penimbangan ke titik nol sebelum penimbangan. Hasil timbangan dikurangi berat alas dan pembungkus bayi |
2
|
|
|
|
|
6. | Pengukuran panjang badan Letakkan bayi ditempat yang datar. Ukur panjang badan dari kepala sampai ke tumit dengan kaki/badan bayi diluruskan | 2 |
|
|
|
|
| Ukur diameter kepala kepala bayi |
|
|
|
|
|
7. | Diameter Submento – bregmatica ( 9,5 cm) | 3 |
|
|
|
|
8. | Diameter Mento – occipito ( 13,5 cm) | 3 |
|
|
|
|
9. | Diameter fronto – occipito ( 12 cm ) | 3 |
|
|
|
|
10. | Diameter Bregmatika – suboccipito (9,5 cm) | 3 |
|
|
|
|
11. | Diameter Biparietal ( 9,25cm ) | 3 |
|
|
|
|
12. | Diameter Bitemporal ( 8 cm) | 3 |
|
|
|
|
| Ukur lingkar kepala kepala |
|
|
|
|
|
13. | Sirkumferensia fronto – occipitalis ( 34 cm ) | 3 |
|
|
|
|
14. | Sirkumferensia mento – occipitalis ( 35 cm ) | 3 |
|
|
|
|
15. | Sirkumferensia Suboccipito -bregmatika (32 cm ) | 3 |
|
|
|
|
16. | Sirkumferensia Submento –bregmatika ( 32 cm ) | 3 |
|
|
|
|
17. | Lingkar lengan atas ( 10 -11cm ) | 2 |
|
|
|
|
18. | Lingkar dada Ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung kembali melewati kedua puting susu ( 30 – 33 cm ) | 2 |
|
|
|
|
19. | Merapikan bayi, membereskan alat, cuci dan lepaskan handscoen dan memasukkan ke dalam larutan clorin 0,5 % , mencuci tangan | 1 |
|
|
|
|
20. | Menjelaskan pada orangtua hasil pemeriksaan | 1 |
|
|
|
|
C | TEKNIK |
|
|
|
|
|
21. | Teruji melaksanakan tindakan secara sistematis | 1 |
|
|
|
|
22. | Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu – ragu | 1 |
|
|
|
|
23. | Teruji melaksanakan tindakan dengan hati – hati dan menjaga keamanan bayi | 2 |
|
|
|
|
24. | Teruji menjaga kehangatan bayi | 1 |
|
|
|
|
25. | Teruji mendokumentasikan hasil pemeriksaan | 1 |
|
|
|
|
PERTEMUAN KE II
Langkah-langkah dalam tindakan pemeriksaan fisik
|
|
|
|
| ||
|
|
| ||||
A. | PERSIAPAN |
|
|
|
|
|
1. | Persiapan Alat Menyiapkan alat dan bahan secara ergonomis § Meja Periksa § Celemek § Handscone § Kasa steril § Kapas DTT dalam kom § Kom sedang § Timbangan bayi § Pengukur panjang badan bayi § Pita LILA § Pita cm § Jangka kepala bayi § Stetoskop § Arloji § Penlight § Kain pengalas timbangan § Selimut bayi § Nierbekken § Thermometer aksila § Thermometer rectal § Bak instrument § Phantom bayi lengkap dengan pakaian § Cotton bud § Bola kapas untuk mata | 1 |
|
|
|
|
2. | Persiapan pasien Jelaskan kepada ibu dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan kepada bayi. | 2 |
|
|
|
|
3. | Persiapan lingkungan - Menjaga suhu bayi dan lingkungan dalam | 2 |
|
|
|
|
| keadaan hangat. -Meletakkan kain pengalas / selimut hangat ditempat pemeriksaan yang rata |
|
|
|
|
|
4. | Persiapan petugas - Mengenakan pelindung diri - Mencuci tangan - Menggunakan sarung tangan | 2 |
|
|
|
|
B. | Content/ isi |
|
|
|
|
|
5. | Keadaan Kepala - Sutura, molase - Penonjolan / daerah yang cekung (caput, cephal, haematoma | 2 |
|
|
|
|
6. | Inspeksi wajah Wajah tampak simetris Perhatikan kelainan wajah |
2
|
|
|
|
|
7. | Mata Bentuk, kebersihan, skelera, bulu mata Tanda – tanda infeksi,yakni pus |
2
|
|
|
|
|
8. | Hidung Lubang hidung Periksa adanya secret hidung Periksa adanya pernafasan cuping hidung |
2
|
|
|
|
|
9. | Mulut Periksa bentuk/ kesimetrisan (adanya bibir sumbing) Kesimetrisan Palatum |
2
|
|
|
|
|
10. | Telinga Simetris Periksa adanya kelainan (kulit tambahan / aurikel, sekret) Refleks terkejut | 2 |
|
|
|
|
11. | Leher Simetris Pembengkakan Kelainan genetik | 2
|
|
|
|
|
12. | Klavikula -Periksa adanya trauma jalan lahir | 1
|
|
|
|
|
13. | Tangan Simetris Periksa keaktifan ekstrimitas bayi Jumlah jari (sindaktili atau polydaktili) Periksa Garis tangan |
2
|
|
|
|
|
14. | Dada Periksa simetris Putting susu |
2
|
|
|
|
|
15. | Abdomen a.Abdomen harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan dada saat | 3 |
|
|
|
|
| bernafas. Kaji adanya pembengkakan (palpasi) Jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika Abdomen yang membuncit kemungkinan karena hepatosplenomegali atau tumor lain Jika perut gembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau ductus omfaloentriskus persisten (kaji dengan palpasi) Periksa keadaan tali pusat, kaji adanya tanda – tanda infeksi (kulit sekitar memerah, tali pusat berbau) |
|
|
|
|
|
16. | Genetalia Pada bayi laki – laki panjang penis 3 -4 cm dan lebar 1 – 1,3 cm. Periksa posisi lubang uretra . prepusium tidak boleh ditarik karena akan menyebabkan fimosis Periksa adanya hipospadia dan epispadia Skrotum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah testis ada dua Pada bayi perempuan cukup bulan labia mayora menutupi labia minora Lubang uretra terpisah dengan lubang vagina Terkadang tampak adanya sekret berdarah dari vagina, hal ini disebabkan oleh pengaruh hormone ibu (withdrawal bledding) | 3 |
|
|
|
|
17. | Anus dan rectum Periksa adanya kelainan atresia ani (pemeriksaan dapat dengan memasukkan thermometer rectal kedalam anus), kaji posisinya. Mekonium secara umum keluar pada 24 jam pertama, jika sampai 48 jam belum keluar kemungkinan adanya mekonium plug symdorme, megakolon atau obstruksi saluran pencernaan | 2 |
|
|
|
|
18. | Tungkai Periksa kesimetrisan tungkai kaki. Periksa panjang kedua kaki dengan meluruskan keduanya dan bandingkan Kedua tungkai harus dapat bergerak bebas. Kurangnya gerakan berkaitan dengan adanya trauma, misalnya fraktur kerusakan neurologis Periksa adanya polodaktili atau sindaktili | 2 |
|
|
|
|
19. | Spinal Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, raba sepanjang spina. Cari adanya tanda – tanda abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan, lesung atau bercak kecil berambut yang dapat | 2 |
|
|
|
|
| menunjukkan adanya abnormalitas medulla spinalis atau kolumna vertebra |
|
|
|
|
|
20. | Kulit Perhatikan kondisi kulit bayi Periksa adanya ruam dan bercak atau tanda lahir Periksa adanya pembengkakan Perhatikan adanya verniks caseosa Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan Perhatikan warna kulit, apakah ada tanda ikterik, sianosis | 2 |
|
|
|
|
21. | Periksa refleks pada bayi baru lahir | 3 |
|
|
|
|
22. | Merapikan bayi, membereskan alat, cuci dan lepaskan handscoen dan masukkan dalam larutan clorin 0,5 % mencuci tangan
| 1 |
|
|
|
|
23. | Menjelaskan pada orangtua hasil pemeriksaan | 1 |
|
|
|
|
C. | TEHNIK |
|
|
|
|
|
24. | Teruji melaksanakan tindakan dengan sistematis | 1 |
|
|
|
|
25. | Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu – ragu | 1 |
|
|
|
|
26. | Teruji melaksanakan tindakan dengan hati – hati dan menjaga keamanan bayi | 1 |
|
|
|
|
27. | Teruji menjaga kehangatan bayi | 1 |
|
|
|
|
28. | Teruji mendokumentasikan hasil pemeriksaan | 1 |
|
|
|
|
PERTEMUAN KE III
Langkah-langkah dalam melakukan tindakan memandikan bayi
A. | PERSIAPAN |
|
|
|
|
|
1. | Persiapan alat Ember mandi § Handuk bayi § Shampoo bayi § Sabun mandi bayi § Pakaian bayi (baju, tali dua, bedong) § Phantom bayi § Selimut bayi § Sepasang washlap § Celemek § Kasa steril § Bola kapas untuk membersihkan mata § Cotton bad § Kapas cebok dalam tempatnya § Kom kecil § Nierbekken § Keranjang kain kotor § Bak Instrument | 1 |
|
|
|
|
2. | Persiapan Pasien Jelaskan kepada ibu dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan kepada bayi. | 1 |
|
|
|
|
3 | Persiapan lingkungan Menjaga suhu bayi dan lingkungan dalam keadaan hangat | 1 |
|
|
|
|
4 | Persiapan Petugas - Mengenakan celemek - Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir | 1 |
|
|
|
|
B | PELAKSANAAN |
|
|
|
|
|
5. | Mempersiapkan keperluan mandi | 1 |
|
|
|
|
6. | Memberikan air hangat (hangat – hangat kuku) dalam bak mandi, diperiksa dengan punggung tangan | 1 |
|
|
|
|
7. | Melepas pakaian bayi | 1 |
|
|
|
|
8. | Membersihkan tinja dari daerah bokong sebelum dimandikan agar air mandi tidak terkontaminasi (bila ada) | 1 |
|
|
|
|
9. | Meletakkan bayi diatas handuk bayi dan menutupi badannya agar tetap hangat | 2 |
|
|
|
|
10. | Membersihkan mata, hidung dan telinga | 2 |
|
|
|
|
11. | Menyangga kepala bayi sambil mengusap air ke muka, tali pusat dan tubuh bayi | 2 |
|
|
|
|
12. | Menyabuni seluruh badan bayi (dada, tangan dan kaki) dengan menggunakan washlap. | 3 |
|
|
|
|
13. | Mencuci tali pusat dengan air bersih dan sabun, bersihkan dan keringkan seluruhnya | 3 |
|
|
|
|
14. | Membersihkan alat genitalia dengan menggunakan kapas lembut - Untuk bayi laki-laki tarik katup kebelakang kemudian dibersihkan. - Untuk bayi perempuan buka labia mayora kemudian bersihkan dengan lembut | 3 |
|
|
|
|
15. | Menempatkan bayi dalam bak mandi, kemudian bilaslah sabun dengan cepat | 4 |
|
|
|
|
16. | Mengeringkan bayi dengan handuk yang hangat dan kering | 3 |
|
|
|
|
17. | Menempatkan bayi pada alas dan popok yang hangat dan kering (menyingkirkan handuk basah kepinggir) | 3 |
|
|
|
|
18. | Melakukan perawatan tali pusat - Membungkus tali pusat dengan kasa steril yang kering - Menjaga tali pusat selalu bersih dan kering - Mengganti kasa secara berkala (apabila basah, kotor atau terkena air kencing bayi) - Jangan menarik atau memaksa tali pusat supaya lepas | 5 |
|
|
|
|
19. | Mengenakan popok, baju bayi dan selimuti dengan kain bersih dan kering | 2 |
|
|
|
|
20. | Memberikan bayi kepada ibu untuk disusui | 2 |
|
|
|
|
21. | Membereskan alat – alat | 1 |
|
|
|
|
22. | Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir | 1 |
|
|
|
|
C | TEKNIK |
|
|
|
|
|
23. | Teruji memposisikan bayi dengan tepat dan baik | 1 |
|
|
|
|
24. | Teruji melaksanakan secara sistematis dan berurutan | 1 |
|
|
|
|
25. | Teruji menjaga keamanan dan keselamatan bayi | 2 |
|
|
|
|
26. | Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu – ragu | 2 |
|
|
|
|
PERTEMUAN KE IV
Langkah-langkah dalam melakukan tindakan imunisasi
A | PERSIAPAN |
| ||||
1 | Persiapan alat § Bak instrument § Kapas DTT § Air hangat § Spuit BCG (spuit 1cc) § Spuit 3 cc § Spuit 5 cc § Nierbekken § Vaksin (BCG, DPT/HIP, Polio, Campak) § Kartu imunisasi § Phantom bayi | 2 |
|
|
|
|
2 | Persiapan pasien Jelaskan kepada ibu dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan kepada bayi. | 2 |
|
|
|
|
3 | Persiapan lingkungan - Menjaga suhu bayi dan lingkungan dalam keadaan hangat. - Meletakkan kain pengalas / selimut hangat ditempat pemeriksaan yang rata | 2 |
|
|
|
|
4 | Persiapan petugas - Mengenakan pelindung diri - Mencuci tangan - Menggunakan sarung tangan | 2 |
|
|
|
|
B | CONTENT/ISI |
| ||||
5. | Menyapa ibu bayi/anak dengan ramah dan memperkenalkan diri | 2 |
|
|
|
|
6. | Menanyakan dan mencatat identitas anak (nama anak dan orang tua) | 2 |
|
|
|
|
7. | Mengecek jenis vaksin yang dibutuhkan oleh bayi pada saat kunjungan dan yang sudah diberikan pada buku KIA. | 3 |
|
|
|
|
8. | Menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan imunisasi yang akan diberikan seperti manfaat, efek, samping, dan tempat injeksi | 3 |
|
|
|
|
9. | Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan handuk | 1 |
|
|
|
|
10. | Mempersiapkan vaksin yang benar dan mengecek tanggal kedaluarsa kemudian mendekatkan coldpack di meja yang tidak terkena sinar matahari | 2 |
|
|
|
|
11. | Memakai sarung tangan | 2 |
|
|
|
|
12. | Mengambil vaksin dengan dosis yang benar | 3 |
|
|
|
|
13. | Memposisikan anak dengan benar | 2 |
|
|
|
|
14. | Desinfeksi kulit sebelum penyuntikan | 2 |
|
|
|
|
15.
| Menyuntik di tempat dan sudut yang benar Intrakutan - Pegang anak dengan tangan kiri sedemikian rupa, sehingga tangan kiri kita berada di bawah lengannya; ibu jari dan jari lainnya mengelilingi lengan anak dan meregangkan kulit. - Pegang spuit dengan tangan kanan, lubang jarum menghadap ke atas. - Posisikan spuit hampir sejajar dengan kulit anak kemudian masukkan jarum ke dalam kulit. - Pegang plunger di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan. Tekan plunger dengan ibu jari, suntikkan vaksin dan keluarkan jarum. Intramuskular - Regangkan kulit di bagian yang akan disuntik. - Masukkan jarum dengan posisi tegak lurus, sehingga masuk ke dalam otot. - Tekan plunger dengan ibu jari untuk memasukkan vaksin-Keluarkan jarum dan tekan tempat bekas suntikan dengan kapas. Subkutan - Pegang lengan anak dan regangkan kulitnya. - Masukkan jarum menembus kulit dengan sudut 45°. - Tekan plunger untuk memasukkan vaksin - Cabut jarum dan tekan tempat bekas suntikan dengan kapas Penetesan Vaksin Oral - Buka mulut anak dengan cara menekan lembut pipinya sehingga bibir anak akan terbuka. - Pegang OPV di depan mulut anak dengan sudut 45°. | 5 |
|
|
|
|
| - Masukkan 2 tetes vaksin ke lidah anak |
|
|
|
|
|
16. | Memperhatikan reaksi bayi pasca penyuntikan | 2 |
|
|
|
|
17. | Masukkan tangan pada wadah berisi larutan klorin 0.5%, bersihkan sarung tangan dan lepaskan secara terbalik | 2 |
|
|
|
|
18. | Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan handuk | 2 |
|
|
|
|
19 | Melakukan pencatatan - Tanggal, bulan dan tahun kunjungan - Lokasi penyuntikan - Nama vaksin yang diberikan | 3 |
|
|
|
|
C | TEKNIK |
|
|
|
|
|
20. | Teruji melaksanakan tindakan secara sistematis | 2 |
|
|
|
|
21. | Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu – ragu | 2 |
|
|
|
|
22. | Teruji melaksanakan tindakan dengan hati – hati dan menjaga keamanan bayi | 2 |
|
|
|
|
PERTEMUAN KE V
Langkah-langkah dalam melakukan tindakan memijat bayi
A.persiapan |
|
|
|
|
|
1.Sikap dan perilaku mahasiswa |
|
|
|
|
|
a.Menjelaskan Prosedur Yang Akan Dilakukan | 2 |
|
|
|
|
b.Bersikap Sopan Pada Saat Pemeriksaan | 2 |
|
|
|
|
c.Tanggap Terhadap Reaksi Pasien | 2 |
|
|
|
|
d.Sabar Dan Teliti Pada Saat Pemeriksaan | 2 |
|
|
|
|
2.Persiapan alat/bahan (disusun secara ergonomis) - Baby oil - Bedong - Pakaian bayi ( topi, popok, gurita, dll) |
2 |
|
|
|
|
3.Persiapan lingkungan (bersih dan hangat ) | 1 |
|
|
|
|
4.Persiapan bayi (bayi tidak dalam keadan lapar/ baru makan) | 1 |
|
|
|
|
5.Persiapan penolong |
|
|
|
|
|
a.Tangan bersih dan hangat | 1 |
|
|
|
|
b.Kuku tidak panjang | 1 |
|
|
|
|
c.Perhiasan dilepas | 1 |
|
|
|
|
d.Cuci tangan | 1 |
|
|
|
|
B.Langkah – langkah |
|
|
|
|
|
1.Wajah a. Tekan jari – jari pada kening, pelipis dan pipi bayi b. Gunakan kedua ibu jari untuk memijat daerah atas alis c. Dengan tekanan lembut, tarik garis dengan ibu jari dari hidung bayi kearah pipinya d. Gunakan kedua ibu jari untuk memijat sekitar mulutnya, tarik sehingga bayi tersenyum e. Pijat lembut rahang bawah bayi dari tangan kesamping seolah – olah membuat bayi tersenyum f. Pijat secara lembut daerah dibelakang telinga kearah dagu | 5 |
|
|
|
|
2.Dada a.Letakkan kedua tangan ditengah dada bayi dan gerakkan keatas kemudian disisi luar tubuh dan kembali keulu hati | 5 |
|
|
|
|
tanpa mengangkat tangan seperti membentuk hati b. Pijat menyilang dari tengah dada bayi dengan telapak tangan kearah bahu seperti membentuk kupu – kupu c. Lakukan gerakan kombinasi yaitu letakkan kedua tangan ditengah dada bayi dan gerakkan keatas kemudian disisi luar tubuh dan kembali ke ulu hati tanpa mengangkat tangan seperti membentuk hati dan pijat menyilang dari tangan kearah bahu seperti membentuk kupu – kupu |
|
|
|
|
|
3.Tangan a. Metode India Pijat tangan bayi dari bahu kepergelangan tangan b. Metode swedia Pijat tangan bayi dari pergelangan tangan ke bahu c. Peganglah lengan bayi dengan kedua telapak tangan, dengan gerakan seperti memerah dari bahu kepergelangan tangan d. Pijat telapak tangan bagian atas bayi e. Pijat telapak tangan bagian bawah bayi f. Tarik lembut jari – jari bayi dengan gerakan memutar g. Pijat seluruh permukaan telapak tangan dan punggung tangan bayi h. Gunakan kedua telapak tangan anda untuk membuat gerakan seperti menggulung pada lengan bayi dari atas kebawah | 5 |
|
|
|
|
4.Perut a. Lakukan gerakan memijat diatas perut bayi seperti mengayun dari atas kearah bawah b. Angkat kedua tangan bayi dan tekukkan lutut perlahan – lahan kearah perut c. Tangan kanan diatas, tangan kiri dibawah dan berputar mengikuti arah jarum jam membentuk lingkaran penuh seperti bunga matahari d. I LOVE YOU 1. ―I‖ Membentuk huruf ―I‖ melalui usapan dari bagian kiri keatas kebawah dengan menggunakan jari – jari kanan seolah – olah membentuk I 2. ―LOVE‖ Bentuk huruf L terbalik dengan melakukan pemijatan kanan atas perut bayi kekiri, kebawah, dan berakhir diperut kiri bawah 3. ―YOU‖ Membentuk huruf U terbalik dimulai kanan bawah keatas, kemudian kekiri, kebawah dan berakhir diperut kiri bawah e. Pijat seperti berjalan dari kiri kekanan dengan jemari | 5 |
|
|
|
|
5. KAKI a. Metode India Pijat kaki bayi dari pangkal paha kepergelangan kaki b. Metode swedia | 5 |
|
|
|
|
Pijat kaki bayi dari pergelangan kaki kepangkal paha c. Peganglah kaki bayi dengan kedua telapak kaki, dengan gerakan seperti memerah dari pangkal paha kepergelangan kaki d. Pijatlah telapak kaki bagian bawah e. Pijatlah telapak kaki bayi bagian atas f. Tarik lembut jari – jari bayi dengan gerakan memutar g. Pijat seluruh permukaan telapak kaki dan punggung kaki h. Gunakan kedua telapak tangan anda untuk membuat gerakan seperti menggulung pada kaki bayi dari atas kebawah |
|
|
|
|
|
6.PUNGGUNG a. Pijat bayi dengan gerakan maju mundur menggunakan kedua telapak tangan disepanjangn punggungnya b. Luncurkan salah satu telapak tangan dari leher hingga pantat bayi dengan sedikit kekanan c. Buat gerakan melingkar dengan jari – jari anda terutama pada otot disebelah tulang punggung d. Buatlah pijatan memanjang dengan telapak tangan dari leher kekakinya untuk mengkhiri pijatan | 4 |
|
|
|
|
7.Teknik a. Melaksanakan tindakan secara sistematis dan berurutan b. Memberikan perhatian terhadap respon pasien c. Melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu – ragu |
2
|
|
|
|
|
8.Merapikan bayi dan memakaikan kembali pakaian bayi | 1 |
|
|
|
|
9.Memberikan bayi kepada ibu untuk disusui | 1 |
|
|
|
|
10.Merapikan alat, ruangan dan melakukan pendokumentasian | 1 |
|
|
|
|
PERTEMUAN KE VI DAN VII
FORMULIR KUESIONER PRA SKRINING PERKEMBANGAN
Kuesioner Praskrining untuk Bayi 3 bulan 1. Pada waktu bayi telentang, apakah masing-masing lengan dan tungkai bergerak dengan mudah? Jawab TIDAK bila salah satu atau kedua tungkai atau lengan bayi bergerak tak terarah/tak terkendali. 2. Pada waktu bayi telentang apakah ia melihat clan menatap wajah anda? 3. Apakah bayi dapat mengeluarkan suara-suara lain (ngoceh), disamping menangis? 4. Pada waktu bayi telentang, apakah ia dapat mengikuti gerakan anda dengan menggerakkan kepalanya dari kanan/kiri ke tengah? 5. Pada waktu bayi telentang, apakah. ia dapat mengikuti gerakan anda dengan menggerakkan kepalanya dari satu sisi hampir sampai pada sisi yang lain? |
6. Pada waktu anda mengajak bayi berbicara dan tersenyum,apakah ia tersenyum kembali kepada anda?
7. Pada waktu bayi telungkup di alas yang datar, apakah ia dapat mengangkat kepalanya
seperti pada gambar ini?
8. Pada waktu bayi telungkup di alas yang datar, apakah ia dapat mengangkat kepalanya sehingga membentuk sudut 45° seperti pada gambar ?
9.
dengan tegak seperti pada gambar?
10. Apakah bayi suka tertawa keras walau tidak digelitik atau diraba-raba?
Kuesioner Praskrining untuk Bayi 6 bulan
1. Pada waktu bayi telentang, apakah ia dapat mengikuti gerakan anda dengan menggerakkan kepala sepenuhnya dari satu sisi ke sisi yang lain?
2. Dapatkah bayi mempertahankan posisi kepala dalam keadaan tegak clan stabil? Jawab TIDAK bila kepala bayi cenderung jatuh ke kanan/kiri atau ke dadanya
3. Sentuhkan pensil di punggung tangan atau ujung jari bayi. (jangan meletakkan diatas telapak tangan bayi). Apakah bayi dapat menggenggam pensil itu selama beberapa detik?
4. Ketika bayi telungkup di alas datar, apakah ia dapat mengangkat dada dengan kedua lengannya sebagai penyangga seperti padA gambar ?
5. Pernahkah bayi mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik tetapi bukan menangis?
6. Pernahkah bayi berbalik paling sedikit dua kali, dari telentang ke telungkup atau sebaliknya?
7. Pernahkah anda melihat bayi tersenyurn ketika melihat mainan yang lucu, gambar atau binatang peliharaan pada saat ia bermain sendiri?
8. Dapatkah bayi mengarahkan matanya pada benda kecil sebesar kacang, kismis atau uang logam? Jawab TIDAK jika ia tidak dapat mengarahkan matanya.
9. Dapatkah bayi meraih mainan yang diletakkan agak jauh namun masih berada dalam jangkauan tangannya?
10. Pada posisi bayi telentang, pegang kedua tangannya lalu tarik perlahan-lahan ke posisi clucluk. Dapatkah bayi mempertahankan lehernya secara kaku seperti gambar di sebelah kiri ? Jawab TIDAK bila kepala bayi jatuh kembali seperti gambar sebelah kanan.
Kuesioner Praskrining untuk Bayi 9 bulan
1. Pada posisi bayi telentang, pegang kedua tangannya lalu tarik perlahan-lahan ke posisi clucluk. Dapatkah bayi mempertahankan lehernya secara kaku seperti gambar di sebelah kiri ? Jawab TIDAK bila kepala bayi jatuh kembali seperti gambar sebelah kanan.
2. Pernahkah anda melihat bayi memindahkan mainan atau kue kering dari satu tangan ke tangan yang lain? Benda-benda panjang seperti sendok atau kerincingan bertangkai tidak ikut dinilai.
3. Tarik perhatian bayi dengan memperlihatkan selendang, sapu tangan atau serbet, kemudian jatuhkan ke lantai. Apakah bayi mencoba mencarinya? Misalnya mencari di bawah meja atau di belakang kursi?
4. Apakah bayi dapat memungut dua benda seperti mainan/kue kering, dan masingmasing tangan memegang satu benda pada saat yang sama? Jawab TIDAK bila bayi tidak pernah melakukan perbuatan ini.
5. Jika anda mengangkat bayi melalui ketiaknya ke posisi berdiri, dapatkah ia menyangga sebagian berat badan dengan kedua kakinya? Jawab YA bila ia mencoba berdiri dan sebagian berat badan tertumpu pada kedua kakinya.
6. Dapatkah bayi memungut dengan tangannya benda-benda kecil seperti kismis, kacang-kacangan, potongan biskuit, dengan gerakan miring atau menggerapai seperti gambar ?
7.
8. Apakah bayi dapat makan kue kering sendiri?
9. Pada waktu bayi bermain sendiri dan anda diam-diam datang berdiri di belakangnya, apakah ia menengok ke belakang seperti mendengar kedatangan anda? Suara keras tidak ikut dihitung. Jawab YA hanya jika anda melihat reaksinya terhadap suara yang perlahan atau bisikan.
10. Letakkan suatu mainan yang dinginkannya di luar jangkauan bayi, apakah ia mencoba mendapatkannya dengan mengulurkan lengan atau badannya?
Kuesioner Praskrining untuk Bayi 12 Bulan
1. Jika anda bersembunyi di belakang sesuatu/di pojok, kemudian muncui dan menghilang secara berulang-ulang di hadapan anak, apakah ia mencari anda atau mengharapkan anda muncul kembali?
2. Letakkan pensil di telapak tangan bayi. Coba ambil pensil tersebut dengan perlahanlahan. Sulitkah anda mendapatkan pensil itu kembali?
3. Apakah anak dapat berdiri selama 30 detik atau lebih dengan berpegangan pada kursi/meja?
4. Apakah anak dapat mengatakan 2 suku kata yang sama, misalnya: ―ma-ma‖, ―da-da‖ atau ―pa-pa‖. Jawab YA bila ia mengeluarkan salah—satu suara tadi.
5. Apakah anak dapat mengangkat badannya ke posisi berdiri tanpa bantuan anda?
6. Apakah anak dapat membedakan anda dengan orang yang belum ia kenal? la akan menunjukkan sikap malu-malu atau ragu-ragu pada saat permulaan bertemu dengan orang yang belum dikenalnya.
7. Apakah anak dapat mengambil Benda kecil seperti kacang atau kismis, dengan meremas di antara ibu jari dan jarinya seperti pada gambar?
8. Apakah anak dapat duduk sendiri tanpa bantuan?
9. Sebut 2-3 kata yang dapat ditiru oleh anak (tidak perlu kata-kata yang lengkap). Apakah ia mencoba meniru menyebutkan kata-kata tadi ?
10. Tanpa bantuan, apakah anak dapat mempertemukan dua kubus kecil yang ia pegang? Kerincingan bertangkai dan tutup panel tidak ikut dinilai.
Kuesioner Praskrining untuk 15 bulan
1. Tanpa bantuan, apakah anak dapat mempertemukan dua kubus kecil yang ia pegang? Kerincingan bertangkai dan tutup, panci tidak ikut dinilai
2. Apakah anak dapat jalan sendiri atau jalan dengan berpegangan?
3. Tanpa bantuan, apakah anak dapat bertepuk tangan atau melambai-lambai? Jawab TIDAK bila ia membutuh kemandirian kaq bantuan.
4.
5. Dapatkah anak berdiri sendiri tanpa berpegangan selama kira-kira 5 detik?
6.
7. Apakah anak dapat menunjukkan apa yang diinginkannya tanpa menangis atau merengek? Jawab YA bila ia menunjuk, menarik atau mengeluarkan suara yang menyenangkan
8. Apakah anak dapat berjalan di sepanjang ruangan tanpa jatuh atau terhuyung-huyung?
9. Apakah anak dapat mengambil benda kecil seperti kacang, kismis, atau potongan biskuit dengan menggunakan ibu seperti pada gambar ini
Kuesioner Praskrining untuk Anak 18 bulan
1. Tanpa bantuan, apakah anak dapat bertepuk tangan atau melambai-lambai? Jawab TIDAK bila ia membutuhkan bantuan.
2. Apakah anak dapat mengatakan ―papa‖ ketika ia memanggil/melihat ayahnya, atau mengatakan ―mama‖ jika memanggil/melihat ibunya?
3. Apakah anak dapat berdiri sendiri tanpa berpegangan selama kira-kira 5 detik?
4. Apakah anak dapat berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik atau lebih?
5. Tanpa berpegangan atau menyentuh lantai, apakah anak dapat membungkuk untuk memungut mainan di lantai clan kemudian berdiri kembali?
6. Apakah anak dapat menunjukkan apa yang diinginkannya tanpa menangis atau merengek? Jawab YA bila ia menunjuk, menarik atau mengeluarkan suara yang menyenangkan.
7. Apakah anak dapat berjalan di sepanjang ruangan tanpa jatuh atau terhuyung-huyung?
8. Apakah anak anak dapat mengambil benda kecil seperti kacang, kismis, atau potongan biskuit dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk seperti pada gambar ?
9. Jika anda menggelindingkan bola ke anak, apakah ia menggelindingkan/melemparkan kembali bola pada anda?
10. Apakah anak dapat memegang sendiri cangkir/gelas dan minum dari tempat tersebut tanpa tumpah?
Kuesioner Praskrining untuk Anak 21 bulan
1. Tanpa berpegangan atau menyentuh lantai, apakah anak dapat membungkuk untuk memungut mainan di lantai dan kemudian berdiri kembali?
2. Apakah anak dapat menunjukkan apa yang diinginkannya tanpa menangis atau merengek? Jawab YA bila ia menunjuk, menarik atau mengeluarkan suara yang menyenangkan.
3. Apakah anak dapat berjalan di sepanjang ruangan tanpa jatuh atau terhuyung-huyung?
4. Apakah anak dapat mengambil benda kecil seperti kacang, kismis, atau potongan biskuit dengan menggunakan ibu jari clan jari telunjuk seperti pada gambar ?
5. Jika anda menggelindingkan bola ke anak, apakah ia menggelindingkan/melemparkan kembali bola pada anda?
6. Apakah anak dapat memegang sendiri cangkir/gelas clan minum dari tempat tersebut tanpa tumpah?
7. Jika anda sedang melakukan pekerjaan rumah tangga, apakah anak meniru apa yang anda lakukan?
8. Apakah anak dapat meletakkan satu kubus di atas Gerak halus Ya Tida kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5-5.0 cm 9.Apakah anak dapat mengucapkan paling sedikit 3 kata yang mempunyai arti selain
―papa‖ dan ―mama‖?.
10.Apakah anak dapat berjalan mundur 5 langkah atau lebih tanpa kehilangan keseimbangan? (Anda mungkin dapat melihatnya ketika anak menarik mainannya)
Kuesioner Praskrining untuk Anak 24 bulan
1. Jika anda sedang melakukan pekerjaan rumah tangga, apakah anak meniru apa yang anda lakukan?
2. Apakah anak dapat meletakkan 1 buah kubus di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5 — 5 cm.
3. Apakah anak dapat mengucapkan paling sedikit 3 kata yang mempunyai arti selain "papa" clan "mama"?
4. Apakah anak dapat berjalan mundur 5 langkah atau lebih tanpa kehilangankeseimbangan?
(Anda mungkin dapat melihatnya ketika anak menarik mainannya).
5. Dapatkah anak melepas pakaiannya seperti: baju, rok, atau celananya? (topi clan kaos kaki tidak ikut dinilai).
6. Dapatkah anak berjalan naik tangga sendiri? Jawab YA jika ia naik tangga dengan posisi tegak atau berpegangan pada dinding atau pegangan tangga. Jawab TIDAK jika ia naik tangga dengan merangkak atau anda tidak membolehkan anak naik tangga atau anak harus berpegangan pada seseorang.
7. Tanpa bimbingan, petunjuk atau bantuan anda, dapatkah anak menunjuk dengan benar paling sedikit satu bagian badannya (rambut, mata, hidung, mulut, atau bagian badan yang lain)?
8. Dapatkah anak makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah?
9. Dapatkah anak membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat piring jika diminta?
Kuesioner Praskrining untuk Anak 30 bulan
1. Dapatkah anak melepas pakaiannya seperti: baju, rok, Sosialisasi & atau celananya? (topi clan kaos kaki tidak ikut dinilai)
2. Dapatkah anak berjalan naik tangga sendiri? Jawab YA jika ia naik tangga dengan posisi tegak atau berpegangan pada Binding atau pegangan tangga. Jawab TIDAK jika ia naik tangga dengan merangkak atau anda tidak membolehkan anak naik tangga atau anak harus berpegangan pada seseorang.
3. Tanpa bimbingan, petunjuk atau bantuan anda, dapatkah anak menunjuk dengan benar paling seclikit satu bagian badannya (rambut, mata, hidung, mulut, atau bagian badan yang lain)?
4. Dapatkah anak makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah?
5. Dapatkah anak membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkapiring jika diminta?
6. Dapatkah anak menendang bola kecil (sebesar bola tenis) Gerak kasar ke depan tanpa berpegangan pada apapun? Mendorong tidak ikut dinilai.
7. Bila diberi pensil, apakah anak mencoret-coret kertas tanpa bantuan/petunjuk?
8. Dapatkah anak meletakkan 4 buah kubus satu persatu di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.
9. Dapatkah anak menggunakan 2 kata pada saat berbicara seperti ―minta minum‖, ―mau tidur‖?―Terimakasih‖ dan ―Dadag‖ tidak ikut dinilai.
10. Apakah anak dapat menyebut 2 diantara gambar-gambar ini tanpa bantuan?
Kuesioner Praskrining untuk Anak 36 bulan
1. Bila diberi pensil, apakah anak mencoret-coret kertas tanpa bantuan/petunjuk?
2. Dapatkah anak meletakkan 4 buah kubus satu persatu di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.
3. Dapatkah anak menggunakan 2 kata pada saat berbicara seperti ―minta minum‖; ―mau tidur‖? ―Terimakasih‖ dan ―Dadag‖ tidak ikut dinilai.
5. Dapatkah anak melempar bola lurus ke arah perut atau dada anda dari jarak 1,5 meter?
6. Ikuti perintah ini dengan seksama. Jangan memberi isyarat dengan telunjuk atau mata pada saat memberikan perintah berikut ini: ―Letakkan kertas ini di lantai‖.
―Letakkan kertas ini di kursi‖.
―Berikan kertas ini kepada ibu‖.
Dapatkah anak melaksanakan ketiga perintah tadi?
7. Buat garis lurus ke bawah sepanjang sekurangkurangnya 2.5 cm. Suruh anak menggambar garis lain di samping garis tsb.
8. Letakkan selembar kertas seukuran buku di lantai. Apakah anak dapat melompati bagian lebar kertas dengan mengangkat kedua kakinya secara bersamaan tanpa didahului lari?
9. Dapatkah anak mengenakan sepatunya sendiri?
10. Dapatkah anak mengayuh sepeda roda tiga sejauh sedikitnya 3 meter?
Kuesioner Praskrining untuk Anak 42 bulan
1. Dapatkah anak mengenakan sepatunya sendiri?
2. Dapatkah anak mengayuh sepeda rods tiga sejauh sedikitnya 3 meter?
3. Setelah makan, apakah anak mencuci clan mengeringkan tangannya dengan balk sehingga anda ticlak perlu mengulanginya?
4. Suruh anak berdiri satu kaki tanpa berpegangan. Jika perlu tunjukkan caranya clan beri anak anda kesempatan melakukannya 3 kali. Dapatkah ia mempertahankan keseimbangan dalam waktu 2 detik atau lebih?
5. Letakkan selembar kertas seukuran buku ini di lantai. Apakah anak dapat melompati panjang kertas ini dengan mengangkat kedua kakinya secara bersamaan tanpa didahului lari?
7. Dapatkah anak meletakkan 8 buah kubus satu persatu di atas yang lain tanpa menjatuhkan kubus tersebut?
Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.
8. Apakah anak dapat bermain petak umpet, ular naga atau permainan lain dimana ia ikut bermain clan mengikuti aturan bermain?
9. Dapatkah anak mengenakan celana panjang, kemeja, baju atau kaos kaki tanpa di bantu? (Tidak termasuk kemandirian memasang kancing, gesper atau ikat pinggang)
Kuesioner Praskrining untuk Anak 48 bulan
1. Dapatkah anak mengayuh sepeda roda tiga sejauh sedikitnya 3 meter?
2. Setelah makan, apakah anak mencuci dan mengeringkan tangannya dengan baik sehingga anda tidak perlu mengulanginya?
3. Suruh anak berdiri satu kaki tanpa berpegangan. Jika perlu tunjukkan caranya dan beri anak anda kesempatan melakukannya 3 kali. Dapatkah ia mempertahankan keseimbangan dalam waktu 2 detik atau lebih?
4. Letakkan selembar kertas seukuran buku ini di lantai. Apakah anak dapat melompati panjang kertas ini dengan mengangkat kedua kakinya secara bersamaan tanpa didahului lari?
5. Jangan membantu anak dan jangan menyebut lingkaran. Suruh anak menggambar seperti contoh ini di kertas kosong yang tersedia. Dapatkah anak menggambar lingkaran?
6. Dapatkah anak meletakkan 8 buah kubus satu persatu di atas yang lain tanpa menjatuhkan kubus tersebut?
Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.
7. Apakah anak dapat bermain petak umpet, ular naga atau permainan lain dimana ia ikut bermain dan mengikuti aturan bermain?
8. Dapatkah anak mengenakan celana panjang, kemeja, baju atau kaos kaki tanpa di bantu? (Tidak termasuk memasang kancing, gesper atau ikat pinggang)
9. Dapatkah anak menyebutkan nama lengkapnya tanpa dibantu? Jawab TIDAK jika ia hanya menyebutkan sebagian namanya atau ucapannya sulit dimengerti.
Kuesioner Praskrining untuk Anak 54 bulan
1. Dapatkah anak meletakkan 8 buah kubus satu persatu di atas yang lain tanpa menjatuhkan kubus tersebut? Kubus yang digunakan ukuran 2-5 – 5 cm.
2. Apakah anak dapat bermain petak umpet, ular naga atau permainan lain dimana ia ikut bermain dan mengikuti aturan bermain?
3. Dapatkah anak mengenakan celana panjang, kemeja, baju atau kaos kaki tanpa di bantu? (Tidak termasuk memasang kancing, gesper atau ikat pinggang)
4. Dapatkah anak menyebutkan nama lengkapnya tanpa dibantu? Jawab TIDAK jika ia hanya menyebut sebagian namanya atau ucapannya sulit dimengerti.
5. Isi titik-titik di bawah ini dengan jawaban anak. Jangan membantu kecuali mengulangi pertanyaan.
"Apa yang kamu lakukan jika kamu kedinginan?"
"Apa yang kamu lakukan jika kamu lapar?"
"Apa yang kamu lakukan jika kamu lelah?"
Jawab YA biia anak merjawab ke 3 pertanyaan tadi dengan benar, bukan dengan gerakan atau isyarat.
Jika kedinginan, jawaban yang benar adalah "menggigil" ,"pakai mantel‘ atau "masuk kedalam rumah‘.
Jika lapar, jawaban yang benar adalah "makan"
Jika lelah, jawaban yang benar adalah "mengantuk", "tidur", "berbaring/tidur-tiduran", "istirahat" atau "diam sejenak"
6. Apakah anak dapat mengancingkan bajunya atau pakaian boneka?
8. Jangan mengoreksi/membantu anak. Jangan menyebut kata "lebih panjang".
Perlihatkan gambar kedua garis ini pada anak. Tanyakan: "Mana garis yang lebih panjang?"
Minta anak menunjuk garis yang lebih panjang.
Setelah anak menunjuk, putar lembar ini dan ulangi pertanyaan tersebut.
Setelah anak menunjuk, putar lembar ini lagi dan ulangi pertanyaan tadi. Apakah anak dapat menunjuk garis yang lebih panjang sebanyak 3 kali dengan benar?
9. Jangan membantu anak dan jangan memberitahu nama gambar ini, suruh anak menggambar seperti contoh ini di kertas kosong yang tersedia. Berikan 3 kali kesempatan. Apakah anak dapat menggambar seperti contoh ini?
10. Ikuti perintah ini dengan seksama. Jangan memberi isyarat dengan telunjuk atau mats pads saat memberikan perintah berikut ini: "Letakkan kertas ini di atas lantai". "Letakkan kertas ini di bawah kursi".
"Letakkan kertas ini di belakang kamu"
Jawab YA hanya jika anak mengerti arti "di atas", "di bawah", "di depan" dan "di belakang‖
Kuesioner Praskrining untuk Anak 60 bulan
1. Isi titik-titik di bawah ini dengan jawaban anak. Jangan membantu kecuali mengulangi pertanyaan.
―Apa yang kamu lakukan jika kamu kedinginan?‖
―Apa yang kamu lakukan jika kamu lapar?‖
―Apa yang kamu lakukan jika kamu lelah?‖
Jawab YA biia anak merjawab ke 3 pertanyaan tadi dengan benar, bukan dengan gerakan atau isyarat.
Jika kedinginan, jawaban yang benar adalah ―menggigil‖ ,‖pakai mantel‘ atau ―masuk kedalam rumah‘.
Jika lapar, jawaban yang benar adalah ―makan‖
Jika lelah, jawaban yang benar adalah ―mengantuk‖, ―tidur‖, ―berbaring/tidurtiduran‖, ―istirahat‖ atau ―diam sejenak‖
2. Apakah anak dapat mengancingkan bajunya atau pakaian boneka?
3. Suruh anak berdiri satu kaki tanpa berpegangan. Jika perlu tunjukkan caranya dan beri anak ands kesempatan melakukannya 3 kali. Dapatkah ia mempertahankan keseimbangan dalam waktu 6 detik atau lebih?
4. Jangan mengoreksi/membantu anak. Jangan menyebut kata ―lebih panjang‖.
| Perlihatkan gambar kedua garis ini pada anak. Tanyakan: ―Mana garis yang lebih panjang?‖ Minta anak menunjuk garis yang lebih panjang. Setelah anak menunjuk, putar lembar ini dan ulangi pertanyaan tersebut. Setelah anak menunjuk, putar lembar ini lagi dan ulangi pertanyaan tadi. Apakah anak dapat menunjuk garis yang lebih panjang sebanyak 3 kali dengan benar? 5. 6. Ikuti perintah ini dengan seksama. Jangan memberi isyarat dengan telunjuk atau mats pads saat memberikan perintah berikut ini: ―Letakkan kertas ini di atas lantai‖. ―Letakkan kertas ini di bawah kursi‖. ―Letakkan kertas ini di depan kamu‖ ―Letakkan kertas ini di belakang kamu‖ Jawab YA hanya jika anak mengerti arti ―di atas‖, ―di bawah‖, ―di depan‖ dan ―di belakang‖ 7. Apakah anak bereaksi dengan tenang dan tidak rewel (tanpa menangis atau menggelayut pada anda) pada saat anda meninqgalkannya? 8. Jangan menunjuk, membantu atau membetulkan, katakan pada anak : ―Tunjukkan segi empat merah‖ ―Tunjukkan segi empat kuning‖ ‗Tunjukkan segi empat biru‖ ―Tunjukkan segi empat hijau‖ Dapatkah anak menunjuk keempat warna itu dengan benar? 9. Suruh anak melompat dengan satu kaki beberapa kali tanpa berpegangan (lompatan dengan dua kaki tidak ikut dinilai). Apakah ia dapat melompat 2-3 kali dengan satu kaki? 10. Dapatkah anak sepenuhnya berpakaian sendiri tanpa bantuan? Kuesioner Praskrining untuk Anak 66 bulan 1.Jangan membantu anak dan jangan memberitahu nama gambar ini, suruh anak menggambar seperti contoh ini di kertas kosong yang tersedia. Berikan 3 kali kesempatan. Apakah anak dapat menggambar seperti contoh ini? | |
2. Ikuti perintah ini dengan seksama. Jangan memberi isyarat dengan telunjuk atau mats pads saat memberikan perintah berikut ini: "Letakkan kertas ini di atas lantai". "Letakkan kertas ini di bawah kursi". "Letakkan kertas ini di depan kamu" "Letakkan kertas ini di belakang kamu" Jawab YA hanya jika anak mengerti arti "di atas", "di bawah", "di depan" dan "di belakang‖ 3. Apakah anak bereaksi dengan tenang dan tidak rewel (tanpa menangis atau menggelayut pada anda) pada saat anda meninqgalkannya? 4. Jangan menunjuk, membantu atau membetulkan, katakan pada anak : "Tunjukkan segi empat merah" "Tunjukkan segi empat kuning" ‗Tunjukkan segi empat biru‖ "Tunjukkan segi empat hijau" Dapatkah anak menunjuk keempat warna itu dengan benar? 5. Suruh anak melompat dengan satu kaki beberapa kali tanpa berpegangan (lompatan dengan dua kaki tidak ikut dinilai). Apakah ia dapat melompat 2-3 kali dengan satu kaki? 6. Dapatkah anak sepenuhnya berpakaian sendiri tanpa bantuan? 7. Suruh anak menggambar di tempat kosong yang tersedia. Katakan padanya: "Buatlah gambar orang". Jangan memberi perintah lebih dari itu. Jangan bertanya/ mengingatkan anak bila ada bagian yang belum tergambar. Dalam memberi nilai, hitunglah berapa bagian tubuh yang tergambar. Untuk bagian tubuh yang berpasangan seperti mata, telinga, lengan dan kaki, setiap pasang dinilai satu bagian. Dapatkah anak menggambar sedikitnya 3 bagian tubuh? 8. Pada gambar orang yang dibuat pada nomor 7, dapatkah anak menggambar sedikitnya 6 bagian tubuh? 9. Tulis apa yang dikatakan anak pada kalimat-kalimat yang belum selesai ini, jangan membantu kecuali mengulang pertanyaan: "Jika kuda besar maka tikus ……… "Jika api panas maka es ……… "Jika ibu seorang wanita maka ayah seorang ……… Apakah anak menjawab dengan benar (tikus kecil, es dingin, ayah seorang pria) ? 10. Apakah anak dapat menangkap bola kecil sebesar bola tenis/bola kasti hanya dengan menggunakan kedua tangannya? (Bola besar tidak ikut dinilai). |
| |
Kuesioner Praskrining untuk Anak 72 bulan 1. Jangan menunjuk, membantu atau membetulkan, katakan pada anak : ―Tunjukkan segi empat merah‖ ―Tunjukkan segi empat kuning‖ ―Tunjukkan segi empat biru‖ ―Tunjukkan segi empat hijau‖ Dapatkah anak menunjuk keempat warna itu dengan benar? 2. Suruh anak melompat dengan satu kaki beberapa kali tanpa berpegangan (lompatan dengan dua kaki tidak ikut dinilai). Apakah ia dapat melompat 2-3 kali dengan satu kaki? 3. Dapatkah anak sepenuhnya berpakaian sendiri tanpa bantuan? 4. Suruh anak menggambar di tempat kosong yang tersedia. Katakan padanya: "Buatlah gambar orang". Jangan memberi perintah lebih dari itu. Jangan bertanya/ mengingatkan anak bila ada bagian yang belum tergambar. Dalam memberi nilai, hitunglah berapa bagian tubuh yang tergambar. Untuk bagian tubuh yang berpasangan seperti mata, telinga, lengan dan kaki, setiap pasang dinilai satu bagian. Dapatkah anak menggambar sedikitnya 3 bagian tubuh? 5. Pada gambar orang yang dibuat pads nomor 7, dapatkah anak menggambar sedikitnya 6 bagian tubuh? 6. Tulis apa yang dikatakan anak pada kalimat-kalimat yang belum selesai ini, jangan membantu kecuali mengulang pertanyaan: "Jika kuda besar maka tikus "Jika api panas maka es "Jika ibu seorang wanita maka ayah seorang Apakah anak menjawab dengan benar (tikus kecil, es dingin, ayah seorang pria) ? 7. Apakah anak dapat menangkap bola kecil sebesar bola tenis/bola kasti hanya dengan menggunakan kedua tangannya? (Bola besar tidak ikut dinilai). 8. Suruh anak berdiri satu kaki tanpa berpegangan. Jika perlu tunjukkan caranya clan beri anak ands kesempatan melakukannya 3 kali. Dapatkah ia mempertahankan keseimbangan dalam waktu 11 detik atau lebih? 9. Jangan membantu anak clan jangan memberitahu nama gambar ini, Suruh anak menggambar seperti contoh ini di kertas kosong yang tersedia- Berikan 3 kali kesempatan. Apakah anak dapat menggambar seperti contoh ini? |
10. |
lsi titik |
- |
titik di bawah ini dengan jawaban anak. Jangan membantu kecuali mengulangi |
pertanyaan sampai 3 kali bila anak menanyakannya. |
"Sendok dibuat dari apa? |
" |
"Sepatu dibuat dari apa?" |
"Pintu dibuat dari apa?" |
Apakah anak dapat menjawab ke 3 pertanyaan di atas dengan benar? Sendok dibuat |
dari besi, baja, plastik, kayu. |
Sepatu dibuat dari kulit, karet, kain, plastik, kayu. |
Pintu dibuat dari kayu, |
besi, kaca. |
Bila jawaban ‗ya‘ berjumlah 9-10, berarti anak normal sesuai tahap perkembangan.
Jawaban ‗ya‘ berarti anak bisa, pernah, sering atau kadang-kadang melakukan. Bila jawaban ‗ya‘ kurang dari 9 perlu diteliti tentang: Cara menghitung usia dan kelompok pertanyaannya, apakah sudah sesuai. Kesesuaian jawaban orang tua dengan maksud pertanyaan.
Apabila ada kesalahan, maka pemeriksaan harus diulang. Bila setelah diteliti, jawaban ‗ya‘ berjumlah 7-8 berarti meragukan dan perlu diperiksa ulang 2 minggu kemudian dengan pertanyaan yang sama. Jika jumlah jawaban tetap sama, kemungkinan ada penyimpangan.
Bila jawaban ‗ya‘ berjumlah 6 atau kurang berarti ada penyimpangan. Anak perlu dirujuk ke rumah sakit untuk keperluan pemeriksaaan lebih lanjut.
b.Test daya Lihat (TDL)
Tes ini merupakan alat untuk memeriksa ketajaman daya lihat serta kelainan mata. Tujuan tes ini untuk mendeteksi secara dini adanya kelainan daya lihat pada usia prasekolah, sehingga bila ada penyimpangan dapat segera ditangani. Dengan demikian kesempatan untuk memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar. Tes ini dilakukan tiap 6 bulan pada anak prasekolah umur 36-72 bulan, dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK / PAUD terlatih dan petugas terlatih lainnya.
Untuk melakukan tes daya lihat, diperlukan ruangan yang bersih dan tenang serta dengan penyinaran yang baik, kursi untuk anak dan pemeriksa, alat penunjuk dan alat ‗kartu E‘ yang digantungkan setinggi anak duduk. ‗Kartu E‘ ini berisi huruf E yang terdiri dari 4 baris, yang mana baris pertama huruf E berukuran paling besar kemudian berangsur-angsur mengecil pada baris keempat. Jarak antara ‗kartu E‘ dan anak sekitar 3 meter.
Secara normal, anak dapat melihat huruf E pada baris ketiga. Apabila anak tidak dapat melihat huruf E pada baris ketiga, maka perlu dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat. Selain tes daya lihat, anak juga perlu diperiksa kesehatan matanya. Perlu ditanyakan dan diperiksa adakah: Keluhan seperti mata gatal, panas, penglihatan kabur, pusing. Perilaku seperti sering menggosok mata, membaca terlalu dekat, sering mengedip-kedipkan mata. Kelainan mata seperti bercak bitot, juling, mata merah dan keluar air. Bila ditemukan satu atau lebih kelainan di atas, maka anak perlu dirujuk.
Jadwal tes daya lihat dilakukan setiap 6 bulan pada anak usia prasekolah umur 36 sampai 72 bulan. Tes ini dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PADU dan petugas terlatih lainnya.
Alat/sarana yang diperlukan adalah:
o Ruangan yang bersih, tenang dengan penyinaran yang baik oDua buah kursi, 1 untuk anak, 1 untuk pemeriksa.
o Poster ―E‖ untuk digantung dan kartu ―E‖ untuk dipegang anak. oAlat penunjuk.
o Cara melakukan tes daya lihat : oPilih suatu ruangan yang bersih dan tenang, dengan penyinaran yang baik.
o Gantungkan poster ―E‖ setinggi mata anak pada posisi duduk. oLetakkan sebuah kursi sejauh 3 meter dari poster ―E‖, menghadap ke poster ―E‖. oLetakkan sebuah kursi lainnya di samping poster ―E‖ untuk pemeriksa.
o Pemeriksa memberikan kartu ‖E‖ pada anak.. Latih anak dalam mengarahkan kartu ‖E‖ menghadap atas, bawah, kiri dan kanan; sesuai yang ditunjuk pada poster ‖E‖ oleh pemeriksa. Beri pujian setiap kali anak mau melakukannya. Lakukan hal ini sampai anak dapat mengarahkan kartu ‖E‖ dengan benar.
o Selanjutnya, anak diminta menutup sebelah matanya dengan buku/kertas.
o Dengan alat penunjuk, tunjuk huruf ‖E pada poster, satu persatu, mulai baris pertama sampai baris keempat atau baris ‖E‖ terkecil yang masih dapat dilihat.
o Puji anak setiap kali dapat mencocokkan posisi kartu ‖E‖ yang dipegangnya dengan huruf ‖E‖ pada poster. oUlangi pemeriksaan tersebut pada mata satunya dengan cara yang sama.
o Tulis baris ‖E‖ terkecil yang masih dapat dilihat, pada kertas yang telah disediakan :
Mata kanan : …………. Mata kiri : …………
o Interpretasi:
Anak prasekolah umumnya tidak mengalami kesulitan melihat sampai baris ketiga pada poster ‖E‖. Bila kedua matan anak tidak dapat melihat baris ketiga poster ‖E‖, artinya tidak dapat mencocokkan arah kartu ―E‖ yang dipegangnya dengan arah ―E‖ pada baris ketiga yang ditunjuk oleh pemeriksa, kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat.
o Intervensi:
Bila kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat, minta anak datang lagi untuk pemeriksaan ulang. Bila pada pemeriksaa berikutnya, anak tidak dapat melihat sampai baris yang sama, atau tidak dapat melihat baris yang sama dengan kedua matanya, rujuk ke Rumah Sakit dengan menuliskan mata yang mengalami gangguan (kanan, kiri atau keduanya).
c. Test Daya Dengar (TDD)
Tanpa pendengaran yang baik, anak tidak dapat belajar berbicara atau mengikuti pelajaran sekolah dengan baik. Oleh karena itu perlu deteksi secara dini fungsi pen- dengaran anak, sehingga kemampuan pendengaran dan bicara anak dapat berkembang dengan baik. Tujuan TDD adalah untuk menemukan gangguan pendengaran secara dini, agar segara dapat ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak. Tes TDD dapat dilakukan tiap 3 bulan pada bayi < 12 bulan dan tiap 6 bulan pada anak > 12 bulan oleh tenaga kesehatan, guru TK / PAUD terlatih dan petugas terlatih lainnya.
Peralatan yang diperlukan adalah intrumen untuk TDD sesuai usia anak, gambar binatang (ayam, anjing, kucing) dan manusia, mainan (boneka, kubus, sendok, cangkir dan bola).
Tes Daya Dengar ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan dengan kelompok usia anak. Jawaban ‗ya‘ jika menurut orang tua/pengasuh, anak dapat melakukan perintah dan jawaban ‗tidak‘ jika anak tidak dapat atau tidak mau melakukan perintah. Jika anak dibawah 12 bulan, pertanyaan ditujukan untuk kemampuan 1 bulan terakhir. Setiap pertanyaan perlu dijawab ‗ya.‘ Apabila ada satu atau lebih jawaban
‗tidak‘, berarti pendengaran anak tidak normal, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut.
INSTRUMEN TES DAYA DENGAR MENURUT UMUR ANAK
Umur 0 - 6 bulan : |
| |
1.Pada waktu bayi tidur kemudian anda berbicara atau membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya ? | Ya | Tidak |
2.Pada waktu bayi tidur telentang dan anda duduk di dekat kepala bayi pada posisi yang tidak terlihat oleh bayi, kemudian anda bertepuk tangan dengan keras, apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambil mengangkat kaki tangannya ke atas ? | Ya | Tidak |
3.Apabila ada suara nyaring (misal suara batuk, salak anjing, piring jatuh ke lantai dan lain-lainnya), apakah bayi terkejut atau terlompat ? | Ya | Tidak |
Umur 6 - 9 bulan : |
| |
1.Pada waktu bayi sedang tidur, kemudian anda berbicara atau membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya ? | Ya | Tidak |
2.Pada waktu bayi tidur telentang dan anda duduk di dekat kepala bayi pada posisi yang tidak terlihat oleh bayi, kemudian anda bertepuk tangan dengan keras, apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambil mengangkat kaki tangannya ke atas ? | Ya | Tidak |
3.Apabila ada suara nyaring (suara batuk, salak anjing, piring jatuh ke lantai dan lain-lainnya), apakah bayi terkejut atau terlompat ? | Ya | Tidak |
4.Anda berada di sisi yang tidak terlihat oleh bayi, sebut namanya atau bunyikan sesuatu, apakah bayi memalingkan kepala mencari sumber suara ? | Ya | Tidak |
Umur 9 - 12 bulan : |
|
|
1.Pada waktu bayi tidur, kemudian anda berbicara atau membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya ? | Ya | Tidak |
2.Pada waktu bayi telentang dan anda duduk di dekat kepalanya pada posisi yang tidak terlihat bayi, kemudian anda tepuk tangan dengan keras. Apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambil mengangkat kaki tangannya ke atas ? | Ya | Tidak |
3.Apabila ada suara nyaring (suara batuk, salak anjing, piring jatuh ke lantai dan lain-lainnya), apakah bayi terkejut atau terlompat? | Ya | Tidak |
4.Anda berada di samping atau belakang bayi dan tidak terlihat oleh bayi, sebutkan namanya atau bunyikan sesuatu, apakah bayi langsung memalingkan kepala ke arah sumber suara tersebut di samping atau belakangnya ? | Ya | Tidak |
Umur 12 - 24 bulan : |
|
|
1.Pada waktu anak tidur kemudian anda berbicara atau membuat kegaduhan, apakah anak akan bergerak atau terbangun dari tidurnya ? | Ya | Tidak |
2.Pada waktu anak tidur telentang dan anda duduk di dekat kepala anak pada posisi yang tidak terlihat oleh anak, kemudian anda bertepuk tangan dengan keras, apakah anak terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambil mengangkat kaki tangannya ke atas ? | Ya | Tidak |
3.Apabila ada suara nyaring (misal suara batuk, salak anjing, piring jatuh ke lantai dan lain-lainnya), apakah anak terkejut | Ya | Tidak |
atau terlompat ? |
|
|
4.Tanpa terlihat oleh anak. buat suara yang menarik perhatian anak, apakah anak langsung mengetahui posisi anda sebagai sumber suara yang berpindah-pindah ? | Ya | Tidak |
5.Ucapkan kata-kata yang mudah dan sederhana, dapatkah anak menirukan anda ? | Ya | Tidak |
Umur 2 – 3 tahun: |
|
|
1.Tutup mulut anda dengan buku/kertas, tanpa melihat gerakan bibir anda, tanyakan pada anak: ―Pegang matamu―, ―Pegang kakimu‖. Apakah anak memegang mata dan kakinya dengan benar ? | Ya | Tidak |
2.Pilih gambar dari majalah/buku bergambar. Tutup mulut anda dengan buku/kertas, tanpa melihat gerakan bibir anda, tanyakan pada anak: ―Tunjukkan gambar kucing (atau anjing, kuda, mobil, orang rumah, bunga, dan sebagainya)?‖ Dapatkah anak menunjukkan gambar yang dimaksud dengan benar ? | Ya | Tidak |
3.Tutup mulut anda dengan buku/kertas, tanpa melihat gerakan bibir anda, perintahkan anak untuk mengerjakan sesuatu seperti: ―Berikan boneka itu kepada saya―, ―Taruh kubus-kubus ini di atas meja/kursi‖, dan sebagainya. Apakah anak dapat mengerjakan perintah tersebut dengan benar ? | Ya | Tidak |
Umur lebih dari 3 tahun : |
|
|
1.Perlihatkan benda-benda yang ada di sekeliling anak seperti sendok, cangkir, bola, bunga dan sebagainya. Suruh anak menyebutkan nama benda-benda tersebut. Apakah anak dapat menyebutkan nama benda-benda tersebut dengan benar ? | Ya | Tidak |
2.Suruh anak duduk, anda duduk dalam jarak 3 meter di depan anak. Suruh anak mengulangi angka-angka yang telah anda ucapkan: ―Empat‖, ―Satu‖, ―Delapan‖ atau menirukan dengan menggunakan jari tangannya. Kemudian tutup mulut anda dengan buku/ketas, ucapkan 4 angka yang berlainan. Apakah anak dapat mengulangi atau menirukan ucapan anda dengan menggunakan jari tangannya ? (Anda dapat mengulanginya dengan suara yang lebih keras | Ya | Tidak |
DENVER DEVELOPMENT SCREENING TEST (DDST) II
DDST adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menentukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. DDST merupakan salah satu metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak, tes ini bukanlah tes diagnostic atau tes IQ.
Pada tahun 1986, Borrowitz menunjukkan bahwa DDST tidak dapat mengidentifikasikan lebih dari separuh anak dengan kelainan bicara dan membuat revisi dan standarisasi kembali DDST dan menambah tugas perkembangan pada sector bahasa. Hasil revisi DDST selanjutnya dinamakan DDST II yang terdiri atas 125 butir dan terdiri dari 4 bagian yaitu:
1. Personal sosial
2. Kemampuan motorik halus, yaitu koordinasi mata dan tangan dalam memanipulasi benda kecil atau pemecahan masalah
3. Bahas, pendengaran, pemahaman dan penggunaan bahasa
Motorik kasar, duduk, berjalan
A. | Sikap |
|
|
|
|
|
1. | Teruji menunjukkan rasa empati terhadap bayi/anak | 1 |
|
|
|
|
2. | Teruji tanggap terhadap reaksi bayi/anak | 1 |
|
|
|
|
3. | Teruji sabar dan teliti | 1 |
|
|
|
|
4. | Teruji komunikatif | 1 |
|
|
|
|
B. | Content / isi |
|
|
|
|
|
5. | Mempersiapkan alat yang diperlukan • Lembar formulir DDST II • Benang wol merah • Kismis/manik-manik • Kubus merah, kuning, hijau, biru 8-10 buah • Boneka kecil dengan botol susu • Cangkir plastik dengan gagang/pegangan • Botol kaca bening kecil • Bola tenis • Bel kecil • Kertas • Pensil warna • Meja dan kursi • Meja periksa dengan kasur/selimut untuk bayi | 1 |
|
|
|
|
6. | Mencuci tangan dengan sabun dan air | 1 |
|
|
|
|
7. | Mempersiapkan ruangan dalam keadaan nyaman | 1 |
|
|
|
|
8. | Sapa orangtua/pengasuh anak dengan ramah | 1 |
|
|
|
|
9. | Menjelaskan tujuan dilakukan tes perkembangan pada orangtua/pengasuh anak | 2 |
|
|
|
|
10. | Menentukan usia anak pada saat pemeriksaan ( | 3 |
|
|
|
|
| penyesuaian perlu dilakukan pada kasus prematuritas anak yang lahir sebelum HPL). |
|
|
|
|
|
11. | Menarik garis pada lembar DDST II seusai dengan usia yang ditentukan. | 1 |
|
|
|
|
12. | Melakukan pengukuran pada anak untuk item-item dalam empat sektor dan berikan penilaian pada setiap item yang dinilai. | 1 |
|
|
|
|
13. | Melakukan tugas perkembangan untuk tiap sektor perkembangan dimulai dari sektor yang paling mudah yang terletak di sebelah kiri garis umur, kemudian dilanjutkan sampai ke kanan garis umur. | 3 |
|
|
|
|
14. | Pada tiap sektor dilakukan minimal 3 tugas perkembangan yang paling dekat di sebelah kiri garis umur serta tiap tugas perkembangan yang ditembus garis umur. | 3 |
|
|
|
|
15. | Bila anak tidak mampu melakukan salah satu ujicoba (gagal; menolak; tidak ada kesempatan), lakukan ujicoba tambahan ke sebelah kiri garis umur pada sector yang sama sampai anak dapat lulus 3 tugas perkembangan | 3 |
|
|
|
|
16. | Bila anak mampu melakukan salah satu tugas, lakukan tugas tambahan ke sebelah kanan garis umur pada sektor yang sama sampai anak gagal pada 3 tugas tambahan perkembangan. | 3 |
|
|
|
|
17. | Melakukan penilaian: Pass/lulus (P) 10. Anak melakukan tes dengan baik, 11. Atau ibu/pengasuh memberi laporan (tepat dan dapat dipercaya bahwa anak dapat melakukannya) Fail/Gagal (P) 1.Anak tidak dapat melakukan tes dengan baik atau ibu/pengasuh memberi laporan bahwa anak tidak dapat melakukan dengan baik No Opportunity (NO) 1. Anak tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan tes karena ada hambatan. 2. Skor ini hanya boleh dipakai pada tes dengan tanda R Refusal/ Menolak (R) 1.Anak menolak untuk melakukan tes | 4 |
|
|
|
|
18. | Membuat kesimpulan secara keseluruhan: 1. Normal 1) Tidak ada keterlambatan/delayed (F) atau paling banyak terdapat 1 caution (C ). 2) Lakukan pemeriksaan pada control kesehatan berikutnya sesuai jadwal 2. Suspek 1) Jika didapatkan ≥ 2 caution atau ≥ 1 | 4 |
|
|
|
|
| Delayed 2) Caution dan delayed karena fail (gagal) 3) Lakukan uji ulang dalam 1-2 minggu untuk menghilangkan faktor sesaat seperti rasa takut, sakit dan kelelahan 3.Tidak dapat di tes (untestable) 1) Jika terdapat 1 atau lebih skor delayed atau 2 caution 2) Caution dan delayed karena refusal (menolak) bukan karena fail (gagal). 3) Sebelah kiri garis umur atau menolak pada > 1 uji coba ditembus garis umur pada daerah 70-90 persentil. 4) Uji dalam 1-2 minggu |
|
|
|
|
|
19. | Menentukan tindakan selanjutnya apakah memerlukan tes kedua atau tidak | 3 |
|
|
|
|
20. | Memberi informasi kepada orang tua tentang hasil DDST II yang sudah dilakukan | 2 |
|
|
|
|
21. | Melakukan pemdokumentasian secara keseluruhan tentang hasil observasi dan hasil DDST II. | 2 |
|
|
|
|
22. | Membereskan alat – alat | 1 |
|
|
|
|
23. | Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir | 1 |
|
|
|
|
| TEKNIK |
|
|
|
|
|
24. | Teruji memposisikan bayi/anak dengan tepat dan baik | 1 |
|
|
|
|
25. | Teruji melaksanakan secara sistematis dan berurutan | 1 |
|
|
|
|
26. | Teruji menjaga keamanan dan keselamatan bayi | 2 |
|
|
|
|
27. | Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu – ragu | 2 |
|
|
|
|
PERTEMUAN KE VIII
KUESIONER MASALAH MENTAL EMOSIONAL (KMME)
No | Pertanyaan | Ya | Tidak |
1. | Apakah anak anda seringkali terlihat marah tanpa sebab yang jelas? (seperti banyak menangis, mudah tersinggung atau bereaksi berlebihan terhadap hal-hal yang sudah biasa dihadapinya) |
|
|
2. | Apakah anak anda tampak menghindar dari teman-teman atau anggota keluarganya? (seperti ingin merasa sendirian, menyendiri atau merasa sedih sepanjang waktu, kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasa sangat dinikmati) |
|
|
3. | Apakah anak anda terlihat berperilaku merusak dan menentang terhadap lingkungan di sekitarnya? (seperti melanggar peraturan yang ada, mencuri, seringkali melakukan perbuatan yang berbahaya bagi dirinya, atau menyiksa binatang atau anak-anak lainnya) dan tampak tidak perduli dengan nasihat-nasihat yang sudah diberikan kepadanya? |
|
|
4. | Apakah anak anda memperlihatkan adanya perasaan ketakutan atau kecemasan berlebihan yang tidak dapat dijelaskan asalnya dan tidak sebanding dengan anak lain seusianya? |
|
|
5. | Apakah anak anda mengalami keterbatasan oleh karena adanya konsentrasi yang buruk atau mudah teralih perhatiannya, sehingga mengalami penurunan dalam aktivitas sehari-hari atau prestasi belajarnya? |
|
|
6. | Apakah anak anda menunjukkan perilaku kebingungan sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan membuat keputusan? |
|
|
7. | Apakah anak anda menunjukkan adanya perubahan pola tidur? (seperti sulit tidur sepanjang waktu, terjaga sepanjang hari, sering terbangun di waktu tidur malam oleh karena mimpi buruk, mengigau) |
|
|
8. | Apakah anak anda mengalami perubahanpola makan? (seperti kehilangan nafsu makan, makan berlebihan atau tidak mau makan sama sekali) |
|
|
9. | Apakah anak anda seringkali mengeluh sakit kepala, sakit perut atau keluhan-keluhan fisik lainnya? |
|
|
10. | Apakah anak anda seringkali mengeluh putus asa atau berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya? |
|
|
11. | Apakah anak anda menunjukkan adanya kemunduran perilaku atau kemampuan yang sudah dimilikinya? (seperti mengompol kembali, menghisap jempol, atau tidka mau berpisah dengan orangtua/pengasuhnya) |
|
|
12. | Apakah anak anda melakukan perbuatan yang berulang-ulang tanpa alasan yang jelas? |
|
|
Deteksi Dini Autis Pada Anak Prasekolah.
o Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya autis pada anak umur 18 bulan sampai 36 bulan.
o Jadwal deteksi dini autis pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila ada keluhan dari ibu/pengasuh atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PADU, pengelola TPA dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan di bawah ini: oketerlambatan berbicara ogangguan komunikasi/ interaksi sosial operilaku yang berulang-ulang
o Alat yang digunakan adalah CHAT (Checklist for Autism in Toddlers).
CHAT ini ada 2 jenis pertanyaan, yaitu:
• Ada 9 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua/pengasuh anak.
Pertanyaan diajukan secara berurutan, satu persatu. Jelaskan kepada orangtua untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
• Ada 5 perintah bagi anak, untuk melaksanakan tugas seperti yang tertulis CHAT. o Cara menggunakan CHAT.
o Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu perilaku yang tetulis pada CHAT kepada orang tua atau pengasuh anak.
o Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas pada CHAT oCatat jawaban orang tua/pengasuh anak dan kesimpulan hasil pengamatan kemampuan anak, YA atau TIDAK. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
o Interpretasi : oRisiko tinggi menderita autis: bila jawaban ―Tidak‖ pada pertanyaan A5, A7, B2, B3, dan B4. oRisiko rendah menderita autis: bila jawaban ‖Tidak‖ pada pertanyaan A7 dan B4 oKemungkinan gangguan perkembangan lain: bila jawaban ‖Tidak‖ jumlahnya 3 atau lebih untuk pertanyaan A1-A4; A6; A8-A9; B1; B5. oAnak dalam batas normal bila tidak termasuk dalam kategori 1, 2 dan 3.
o Intervensi:
Bila anak risiko menderita autis atau kemungkinan ada gangguan perkembangan, Rujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang anak.
CEKLIS DETEKSI DINI AUTIS PADA ANAK UMUR 18-36 BULAN
CHAT (Checklist for Autism in Toddlers)
A. | Alo anamnesis | Ya | Tidak |
1. | Apakah anak senang diayun-ayun atau diguncang-guncang naik turun (bounched) di paha anda? |
|
|
2. | Apakah anak tertarik (memperhatikan) anak lain? |
|
|
3. | Apakah anak suka memanjat-manjat, seperti memanjat tangga? |
|
|
4. | Apakah anak suka bermain ‖ciluk ba‖, ‖petak umpet‖? |
|
|
5. | Apakah anak pernah bermain seolah-olah membuat secangkir teh menggunakan mainan berbentuk cangkir dan teko, atau permainan lain? |
|
|
6. | Apakah anak pernah menunjuk atau meminta sesuatu dengan menunjukkan jari? |
|
|
7. | Apakah anak pernah menggunakan jari untuk menunjuk ke sesuatu agar anda melihat ke sana? |
|
|
8. | Apakah anak dapat bermain dengan mainan yang kecil (mobil atau kubus)? |
|
|
9. | Apakah anak pernah memberikan suatu benda untuk menunjukkan sesuatu? |
|
|
B. | Pengamatan | Ya | Tidak |
1. | Selama pemeriksaan apakah anak menatap (kontak mata) dengan pemeriksa? |
|
|
2. | Usahakan menarik perhatian anak, kemudian pemeriksa menunjuk sesuatu di ruangan pemeriksaan sambil mengatakan: ‖ Lihat itu ada bola (atau mainan lain)‖!. Perhatikan mata anak, apakah ia melihat ke benda yang ditunjuk, bukan melihat tangan pemeriksa? |
|
|
3. | Usahakan menarik perhatian anak, berikan mainan gelas/ cangkir dan teko. Katakan pada anak: ‖Buatkan secangkir susu buat mama‖! |
|
|
4. | Tanyakan pada anak: ‖Tunjukan mana gelas‖! (gelas dapat diganti dengan nama benda lain yang dikenal anak dan ada di sekitar kita). Apakah anak menunjukkan benda tersebut dengan jarinya? Atau sambil menatap wajah anda ketika menunjuk ke suatu benda? |
|
|
5. | Apakah anak dapat menumpuk beberapa kubus/balok menjadi suatu menara? |
|
|
C.Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) Pada Anak Prasekolah.
o Tujuannya adalah untuk mengetahui secara dini anak adanya Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada anak umur 36 bulan ke atas.
o Jadwal deteksi dini GPPH pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila ada keluhan dari orang tua/pengasuh anak atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PADU, pengelola TPA dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan di bawah ini:
o Anak tidak bisa duduk tenang
o Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah oPerubahan suasana hati yang mendadak/impulsif
o Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas/GPPH (Abbreviated Conners Ratting Scale)
o Formulir ini terdiri 10 pertanyaan yang ditanyakan kepada orang tua/pengasuh anak/guru TK dan pertanyaan yang perlu pengamatan pemeriksa.
o Cara menggunakan formulir deteksi dini GPPH:
o Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu perilaku yang tertulis pada formulir deteksi dini GPPH. Jelaskan kepada orangtua/pengasuh anak untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
o Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan pertanyaan pada formulir deteksi dini GPPH
o Keadaan yang ditanyakan/diamati ada pada anak dimanapun anak berada, misal ketika di rumah, sekolah, pasar, toko, dll); setiap saat dan ketika anak dengan siapa saja.
o Catat jawaban dan hasil pengamatan perilaku anak selama dilakukan pemeriksaan. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
o Interpretasi:
o Beri nilai pada masing-masing jawaban sesuai dengan ―bobot nilai‖ berikut ini dan jumlahkan nilai masing-masing jawaban menjadi nilai total oNilai 0: jika keadaan tersebut tidak ditemukan pada anak.
o Nilai 1: jika keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan pada anak. oNilai 2: jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak.
o Nilai 3: jika keadaan tersebut selalu ada pada anak.
Bila nilai total 13 atau lebih anak kemungkinan dengan GPPH.
o Intervensi:
o Anak dengan kemungkinan GPPH perlu dirujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang anak untuk konsultasi dan lebih lanjut.
o Bila nilai total kurang dari 13 tetapi anda ragu-ragu, jadwalkan pemeriksaan ulang 1 bulan kemudian. Ajukan pertanyaan kepada orang-orang terdekat dengan anak (orang tua, pengasuh, nenek, guru, dsb).
FORMULIR DETEKSI DINI GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS (GPPH)
| Kegiatan yang diamati | 0 | 1 | 2 | 3 |
1. | Tidak kenal lelah, atau aktivitas yang berlebihan |
|
|
|
|
2. | Mudah menjadi gembira, impulsive. |
|
|
|
|
3. | Mengganggu anak-anak lain |
|
|
|
|
4. | Gagal menyelesaikan kegiatan yang telah dimulai, rentang perhatian pendek |
|
|
|
|
5.Menggerak-gerakkan anggota badan atau kepala secara terus menerus |
|
|
|
| |
6.Kurang perhatian, mudah teralihkan |
|
|
|
| |
7.Permintaannya harus segera dipenuhi, mudah menjadi frustrasi |
|
|
|
| |
8.Sering dan mudah menangis |
|
|
|
| |
9.Suasana hatinya mudah berubah dengan cepat dan drastis |
|
|
|
| |
10.Ledakkan kekesalan, tingkah laku eksplosif dan tak terduga. |
|
|
|
| |
|
|
|
|
| |
| |||||
Komentar
Posting Komentar